Kabupaten Banyuwangi kembali mengukir prestasi gemilang di kancah nasional, mengukuhkan komitmennya dalam mewujudkan kualitas kesehatan masyarakat yang prima. Dalam sebuah seremoni penghargaan prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Jakarta, Banyuwangi dinobatkan sebagai salah satu kota sehat terbaik di Tanah Air. Penobatan ini ditandai dengan diterimanya dua anugerah bergengsi: Anugerah Kabupaten Sehat Swasti Saba kategori Padapa dan penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) kategori Madya, di mana Banyuwangi menempati peringkat terbaik kedua secara nasional.
Anugerah Kabupaten Sehat Swasti Saba merupakan pengakuan terhadap daerah yang secara konsisten dan terintegrasi telah berhasil menciptakan lingkungan serta perilaku hidup sehat bagi warganya. Kategori Padapa, sebagai tahap awal dalam jenjang penghargaan ini, menunjukkan bahwa Banyuwangi telah membangun fondasi yang kuat dan komitmen yang nyata dalam sembilan tatanan kesehatan yang menjadi indikator penilaian. Pencapaian ini bukan sekadar simbol, melainkan cerminan dari kerja keras lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat dalam mewujudkan kota yang layak huni dan sehat.
Sementara itu, penghargaan STBM kategori Madya dengan peringkat kedua terbaik nasional adalah bukti nyata peningkatan signifikan kesadaran dan praktik sanitasi di kalangan masyarakat Banyuwangi. Program STBM sendiri merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat, dengan fokus pada lima pilar utama yang esensial bagi kesehatan lingkungan dan individu. Raihan ini menempatkan Banyuwangi sebagai salah satu daerah terdepan dalam upaya percepatan akses sanitasi layak dan peningkatan kualitas kesehatan berbasis komunitas.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen pemerintah daerah, termasuk Banyuwangi, dalam upaya kolektif mewujudkan kota sehat. Menurutnya, peran kepala daerah sangat strategis dan vital dalam meningkatkan usia hidup sehat serta angka harapan hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan visi Kemenkes untuk menjadikan Indonesia lebih sehat, mandiri, dan berdaya saing.
"Ini bukan hanya tugas Kemenkes semata, melainkan sebuah kesempatan emas bagi para kepala daerah untuk turut serta secara aktif dalam menjaga kesehatan 280 juta penduduk Indonesia," ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menambahkan bahwa upaya kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada fasilitas kuratif atau pengobatan, melainkan harus dimulai dari hulu, yaitu melalui pendekatan promotif dan preventif.
Menkes juga memaparkan target ambisius nasional dalam bidang kesehatan. Saat ini, rata-rata usia hidup sehat di Indonesia berada pada angka 60 tahun. Kemenkes menargetkan angka ini dapat meningkat menjadi 65 tahun pada tahun 2029. Sejalan dengan itu, angka harapan hidup yang saat ini berada di kisaran 72 tahun diharapkan dapat melonjak menjadi 75 tahun dalam periode yang sama. Pencapaian target ini, lanjutnya, memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dan dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah daerah.
"Strategi utama kita adalah mendidik masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup sehat atau pendekatan promotif, serta mencegah mereka dari berbagai penyakit, yang kita sebut sebagai preventif," jelas Menkes. Pendekatan promotif mencakup edukasi gizi seimbang, pentingnya aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup bersih. Sementara itu, pendekatan preventif meliputi imunisasi lengkap, skrining kesehatan rutin, serta penyediaan akses sanitasi yang layak dan air bersih. Kedua strategi ini menjadi tulang punggung dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas penghargaan yang diraih. Ia menjelaskan bahwa Anugerah Swasti Saba berfungsi sebagai instrumen komprehensif untuk mengukur tingkat kesehatan sebuah kota berdasarkan pencapaian sembilan tatanan kehidupan. Sembilan tatanan tersebut meliputi: kehidupan masyarakat sehat mandiri, permukiman dan fasilitas umum yang sehat, kehidupan sekolah/institusi pendidikan yang sehat, pasar rakyat yang sehat, perkantoran dan perindustrian yang sehat, pariwisata sehat, transportasi dan tertib lalu lintas yang sehat, perlindungan sosial yang sehat, serta penanganan bencana yang sehat.
"Sembilan tatanan tersebut terus kami perkuat secara terintegrasi dan kolaboratif bersama berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait serta instansi vertikal. Upaya ini merupakan komitmen kami untuk secara berkelanjutan mewujudkan Banyuwangi sebagai kota yang benar-benar sehat, nyaman, dan aman bagi seluruh warganya," kata Bupati Ipuk. Ia menambahkan bahwa pendekatan holistik ini memastikan bahwa aspek kesehatan tidak hanya terbatas pada layanan medis, tetapi juga mencakup seluruh dimensi kehidupan masyarakat.
Lebih lanjut, Bupati Ipuk menegaskan bahwa penghargaan STBM merupakan bukti nyata dari meningkatnya kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat Banyuwangi dalam menjaga kesehatan lingkungan. "Ini adalah hasil dari kolaborasi erat semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, lembaga pendidikan, sektor swasta, hingga peran vital masyarakat di tingkat desa dan RT/RW. Kesadaran akan pentingnya sanitasi dan higienitas ini perlu terus dijaga dan dikembangkan agar menjadi budaya yang mengakar," ucapnya.
Program STBM sendiri mencakup verifikasi lapangan terhadap implementasi lima pilar esensial yang menjadi indikator keberhasilan. Kelima pilar tersebut adalah:
- Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS): Mengakhiri praktik BABS dengan memastikan setiap rumah tangga memiliki atau menggunakan jamban sehat.
- Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS): Mendorong kebiasaan CTPS pada waktu-waktu kritis untuk mencegah penularan penyakit.
- Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga yang Aman: Memastikan air minum dan makanan yang dikonsumsi bebas dari kontaminasi.
- Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang Aman: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan, pengurangan, dan pengelolaan sampah yang benar.
- Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga yang Aman: Memastikan limbah rumah tangga, seperti air sabun dan limbah dapur, dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan.
Bupati Ipuk juga mengingatkan bahwa penghargaan yang diraih bersifat fluktuatif dan dapat berubah setiap tahun, tergantung pada kualitas dan konsistensi indikator penilaian. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari jajaran pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, hingga seluruh lapisan masyarakat, untuk tidak berpuas diri dan terus menjaga serta meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan di Banyuwangi.
"Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Bapak Menteri Kesehatan, mari kita mulai dari diri sendiri. Menjaga pola makan yang sehat, memastikan pola istirahat yang cukup, mengadopsi gaya hidup aktif, dan rutin berolahraga. Semua tindakan personal ini secara kolektif akan berkontribusi besar dalam mewujudkan Banyuwangi sebagai kota yang sehat, sejahtera, dan berkelanjutan," pungkas Bupati Ipuk Fiestiandani, mengakhiri pesannya dengan ajakan untuk terus bergerak maju demi Banyuwangi yang lebih baik. Raihan ini menjadi motivasi bagi Banyuwangi untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
[rakyatindependen.id]

