Proses krusial ini dilaksanakan melalui kolaborasi strategis dengan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), memanfaatkan kecanggihan teknologi Drone Thermal. Teknologi ini dirancang khusus untuk memetakan secara detail area-area yang paling rentan dan terdampak langsung oleh erupsi vulkanik, dengan prioritas utama pada pemukiman penduduk yang kerap terpapar awan panas guguran (APG) – fenomena mematikan yang menjadi ciri khas Semeru. Penggunaan drone tidak hanya mempercepat proses pengumpulan data, tetapi juga meningkatkan keselamatan tim di lapangan, mengingat kondisi medan yang berbahaya dan tidak stabil pasca-erupsi.
Menurut R. N. Hamisena, Divisi Mitigasi dan Emergency Respon APDI, yang disampaikan pada Minggu (23/11/2025), "Pemetaan udara kawasan terdampak erupsi menjadi fokus utama yang akan dilakukan pihak kami." Pernyataan ini menegaskan komitmen APDI dalam mendukung BNPB dengan keahlian teknis dan operasional di lapangan. Keunggulan drone thermal terletak pada kemampuannya untuk mendeteksi perbedaan suhu permukaan, memungkinkan identifikasi area yang masih menyimpan panas tinggi, jalur aliran lava yang mungkin tertutup abu vulkanik, bahkan anomali suhu yang bisa menjadi indikasi aktivitas di bawah permukaan. Ini adalah informasi vital yang tidak dapat diperoleh dengan metode pemetaan konvensional.
Dengan kapabilitas kamera thermal, pemantauan ini diharapkan mampu menghasilkan data yang sangat akurat dan terperinci mengenai perubahan topografi, jalur baru aliran material vulkanik seperti lahar panas maupun dingin, serta area-area yang masih menyimpan panas pasca-erupsi. Data yang terkumpul ini tidak hanya memberikan gambaran real-time, tetapi juga memungkinkan analisis komparatif yang mendalam antara kondisi wilayah sebelum dan sesudah terjadinya erupsi. "Yang pasti nanti dari peta udara tersebut akan di-compare dari sebelum ataupun sesudah kejadian untuk mengetahui citranya seperti apa," tambah Hamisena, menjelaskan metodologi yang akan diterapkan untuk menghasilkan citra yang jelas dan dapat diinterpretasikan oleh pemangku kebijakan. Perbandingan citra ini sangat penting untuk memahami dinamika erupsi dan pergeseran zona bahaya.
Data akurat yang dihasilkan dari pemetaan drone thermal akan menjadi landasan bagi pemangku kebijakan dalam menentukan langkah-langkah mitigasi bencana yang lebih efektif di masa depan. Ini mencakup perencanaan tata ruang yang lebih baik, penentuan jalur evakuasi yang aman, serta penetapan zona larangan permanen untuk pembangunan atau budidaya.
- Pengkhianatan Kepercayaan: Oknum ASN Pasuruan Cabuli Keponakan Kandung di Probolinggo, Trauma Mendalam Bayangi Korban
- Siraman Gong Kiai Pradah Blitar: Ritual Sakral yang Menggerakkan Roda Ekonomi Lokal dan Menarik Perhatian Wisatawan
- Gangguan Teknis Parah Lumpuhkan Akses ke Berita Krusial di rakyatindependen.id, Ribuan Pembaca Kehilangan Informasi Vital Jawa Timur
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menyoroti urgensi pembaruan peta kawasan rawan bencana ini. "Ini penting sekali (pemetaan), dengan adanya pola perubahan, mungkin nanti PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) bisa menjelaskan lagi kawasan rawan yang setelah dideleniasi kejadian beberapa tahun ini," ujar Raditya. Penekanan ini muncul mengingat sifat dinamis Gunung Semeru, di mana dampak erupsi kerap meluas secara signifikan hingga ke permukiman warga dalam lima tahun terakhir, mengubah secara drastis batas-batas KRB yang telah ditetapkan sebelumnya. Gunung Semeru, yang dikenal sebagai ‘Mahameru’ oleh masyarakat setempat, adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Karakteristik erupsinya yang eksplosif seringkali disertai dengan luncuran awan panas guguran (APG) dan banjir lahar dingin saat musim hujan. APG merupakan campuran gas panas, abu vulkanik, dan material batuan yang bergerak sangat cepat menuruni lereng gunung, mematikan bagi apa pun yang dilewatinya. Sementara itu, lahar dingin, yang merupakan campuran material vulkanik lepas dengan air hujan, berpotensi merusak infrastruktur dan lahan pertanian di sepanjang aliran sungai.

Sejarah menunjukkan bahwa kawasan rawan bencana erupsi Gunung Semeru telah mengalami perubahan substansial. Data mencatat bahwa pada tahun 1996, luas KRB adalah 72,16 hektar. Namun, pada tahun 2021, angka tersebut telah meluas menjadi 80,43 hektar. Perubahan ini mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik Semeru tidak hanya intens, tetapi juga memiliki potensi untuk mengubah lanskap geografis di sekitarnya, menuntut respons mitigasi yang adaptif dan berbasis data terkini. Sebagai contoh nyata, erupsi yang terjadi pada 19 November 2025 – sebuah peristiwa yang diperkirakan akan memberikan dampak signifikan – diperkirakan mempengaruhi dua wilayah padat penduduk, yaitu Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo. Wilayah-wilayah ini secara historis memang sering menjadi titik panas dampak erupsi, menyoroti pentingnya penentuan KRB yang akurat untuk melindungi warganya.
Dalam konteks kebijakan mitigasi jangka panjang, Raditya Jati menegaskan komitmen BNPB untuk memastikan bahwa kawasan yang terdampak erupsi, terutama yang dikategorikan sangat rawan, tidak akan diizinkan untuk dijadikan pemukiman permanen atau lahan budidaya. "Tentu yang jelas tugas kami adalah untuk memastikan bahwa masyarakat yang ada di sekitar dinyatakan rawan itu tidak dilakukan budidaya ataupun pemukiman permanen," tegasnya. Kebijakan ini merupakan pilar penting dalam upaya pengurangan risiko bencana, bertujuan untuk memutus siklus kerentanan yang berulang. Dengan mencegah pembangunan kembali di zona merah, BNPB berupaya melindungi nyawa dan properti, sekaligus mendorong relokasi atau pengembangan mata pencarian alternatif yang lebih aman bagi komunitas yang terdampak. Ini adalah langkah proaktif yang menuntut kolaborasi kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat setempat dalam implementasi perencanaan tata ruang yang aman bencana.
Meskipun canggih, operasi drone di lingkungan vulkanik tidak tanpa tantangan. Kondisi cuaca yang ekstrem, seperti angin kencang atau hujan abu, dapat menghambat penerbangan. Keterbatasan daya baterai juga menuntut perencanaan misi yang matang dan efisien. Di sinilah sinergi antara BNPB yang menyediakan mandat dan dukungan logistik, dengan APDI yang membawa keahlian operasional dan teknologi, menjadi sangat vital. Kolaborasi ini memastikan bahwa setiap misi pemetaan dilaksanakan dengan standar keselamatan tertinggi dan menghasilkan data yang optimal.
Kabupaten Lumajang, sebagai wilayah yang paling dekat dengan puncak Semeru, telah berulang kali merasakan dampak langsung dari letusan gunung ini. Masyarakat di Candipuro dan Pronojiwo, khususnya, hidup dalam kondisi siaga yang konstan. Oleh karena itu, pemetaan ulang ini bukan hanya sekadar pembaruan data geografis, melainkan juga sebuah upaya untuk memberikan rasa aman dan kesiapan yang lebih baik bagi ribuan jiwa yang tinggal di kaki gunung. Ini juga merupakan kesempatan untuk memperkuat kapasitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang dalam merespons ancaman vulkanik di masa depan.
Langkah-langkah pemetaan yang inovatif ini tidak hanya sekadar mengumpulkan data geografis, tetapi juga menjadi fondasi bagi strategi mitigasi bencana yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Data yang diperoleh dari drone thermal akan diintegrasikan ke dalam sistem informasi geografis (GIS) untuk menghasilkan peta KRB yang dinamis, memfasilitasi pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam situasi darurat. Selain pemetaan, upaya mitigasi juga mencakup edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda bahaya erupsi, jalur evakuasi yang aman, serta tempat penampungan sementara. Keterlibatan aktif komunitas lokal menjadi kunci dalam membangun ketahanan bencana dari tingkat paling bawah. Pelatihan dan simulasi evakuasi secara berkala akan dilakukan berdasarkan peta KRB terbaru, memastikan bahwa setiap warga mengetahui langkah yang harus diambil saat bencana datang.
Penggunaan teknologi drone thermal menandai era baru dalam penanganan bencana vulkanik di Indonesia, memadukan kecepatan, akurasi, dan keselamatan dalam satu paket solusi. Ini adalah investasi jangka panjang dalam keamanan dan kesejahteraan masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang gunung berapi aktif seperti Semeru. Dengan demikian, BNPB berharap dapat menyajikan gambaran yang jauh lebih jelas dan akurat mengenai kawasan-kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana secara holistik di wilayah yang secara inheren rentan terhadap erupsi Gunung Semeru. Ini adalah wujud nyata komitmen negara dalam melindungi rakyatnya dari ancaman bencana alam yang tak terduga, membangun ketahanan yang lebih baik untuk masa depan.
[has/suf]
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita rakyatindependen.id


