Surabaya – Aura panas Derby Jawa Timur sudah mulai terasa di Kota Pahlawan. Pertandingan paling dinanti di kancah sepak bola nasional, yang mempertemukan Persebaya Surabaya dan Arema FC, akan kembali memanaskan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada Sabtu, 22 November 2025. Namun, menjelang laga sarat gengsi ini, Persebaya dipastikan akan tampil tanpa salah satu pilar utamanya, gelandang serang asal Meksiko, Fransisco Rivera. Absennya Rivera, yang harus menepi akibat akumulasi kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Persik Kediri pada 7 November lalu, tentu menjadi perhatian. Meskipun demikian, Pelatih Persebaya, Eduardo Perez, dengan tegas menyatakan bahwa absennya pemain kunci tersebut tidak akan menjadi alasan bagi timnya. Ia menegaskan, kedalaman skuad Bajul Ijo lebih dari cukup untuk menghadapi tantangan ini.
Fransisco Rivera telah menjadi motor serangan dan denyut nadi di lini tengah Persebaya sepanjang musim. Dengan visi bermainnya yang brilian, umpan-umpan akurat, serta kemampuan mencetak gol dari lini kedua, Rivera kerap menjadi pembeda dalam banyak pertandingan. Kehilangan pemain dengan kaliber seperti Rivera, terutama dalam laga sekelas derby yang menuntut performa terbaik dari setiap individu, tentu bisa dianggap sebagai pukulan telak. Namun, Eduardo Perez, pelatih berkebangsaan Spanyol berusia 65 tahun itu, memiliki pandangan yang berbeda. Baginya, filosofi tim adalah segalanya, dan tidak ada satu pun pemain yang lebih besar dari kolektivitas tim.
“Rivera adalah pemain penting bagi kami, itu tidak bisa dipungkiri,” ujar Edu, Rabu (18/11/2025), dengan nada tenang namun penuh keyakinan. “Tapi kami punya satu skuad berisi 27 pemain yang berkualitas. Saya pikir kita sudah melihat bahwa semua pemain siap ketika ada pemain lain yang cedera atau terkena kartu kuning atau kartu merah. Ini adalah bagian dari sepak bola, dan kami selalu siap untuk itu.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari budaya tim yang telah dibangunnya dengan susah payah sejak awal musim. Edu percaya bahwa setiap pemain dalam skuad memiliki peran dan tanggung jawab yang sama, dan setiap individu telah dipersiapkan untuk bisa tampil maksimal kapan pun dibutuhkan.
Filosofi Eduardo Perez memang dikenal sangat kuat dalam menekankan mentalitas tanpa alasan. Sejak pertama kali menukangi Persebaya, Edu selalu mengedepankan prinsip bahwa setiap hasil pertandingan adalah buah dari kerja keras dan persiapan tim secara keseluruhan, bukan tergantung pada satu atau dua individu saja. “Seperti yang kalian tahu, saya tidak pernah membuat alasan. Saya selalu bilang, saya tidak mau membicarakan pemain yang tidak bisa bermain. Sekarang saya ingin membicarakan pemain yang bisa bermain,” tambahnya, menegaskan fokusnya pada solusi dan potensi yang ada, bukan pada masalah. Pendekatan ini secara efektif menanamkan kepercayaan diri di antara para pemain cadangan dan membangun semangat kompetisi internal yang sehat, di mana setiap pemain merasa memiliki kesempatan untuk menunjukkan kualitasnya.
Untuk menutup kekosongan yang ditinggalkan Rivera di lini tengah, Persebaya memiliki beberapa opsi yang tak kalah mumpuni. Nama-nama seperti Bruno Moreira dan Malik Rizaldi disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk mengisi posisi tersebut. Bruno Moreira, dengan kecepatan, kelincahan, dan kemampuan dribelnya yang memukau, dapat memberikan dimensi serangan yang berbeda. Sementara itu, Malik Rizaldi dikenal dengan etos kerja tingginya, kemampuan bertahan yang solid, dan visinya dalam mendistribusikan bola, yang bisa memberikan keseimbangan lebih di lini tengah. Selain keduanya, masih ada beberapa pemain muda berbakat lainnya yang juga siap jika diberi kepercayaan. Kedalaman skuad ini menjadi aset berharga bagi Persebaya dalam menghadapi jadwal padat dan tekanan tinggi di Liga 1.

Persiapan tim jelang Derby Jatim, yang kerap disebut sebagai "El Clasico Indonesia" atau "Derby Harga Diri," terus berjalan sesuai rencana. Intensitas latihan tetap dimaksimalkan, dengan fokus taktikal yang tajam untuk menghadapi Arema FC. Eduardo Perez dan staf pelatihnya telah merancang strategi khusus untuk meredam kekuatan lawan dan mengeksploitasi kelemahan mereka. Latihan-latihan yang mencakup transisi menyerang dan bertahan, set-piece, serta penguasaan bola telah digenjot secara intensif. Aspek mental juga tidak luput dari perhatian. Tekanan besar dari pertandingan penuh gengsi ini membutuhkan ketenangan dan fokus tinggi dari para pemain, dan Edu dikenal piawai dalam memotivasi serta menjaga mentalitas pasukannya.
“Kami akan terus melanjutkan persiapan untuk pertandingan berikutnya dan tetap menjalankan rencana permainan yang telah kami susun,” tutur Edu. Pelatih asal Spanyol itu juga mengakui rivalitas tinggi yang melekat pada pertemuan Persebaya dan Arema. Bagi suporter kedua tim, pertandingan ini bukan sekadar memperebutkan tiga poin, melainkan tentang kehormatan, kebanggaan, dan dominasi di Jawa Timur. “Saya tahu rivalitas antara Arema dan Persebaya, ini pertandingan yang penting. Kami paham betapa pentingnya laga ini, sama seperti pertandingan-pertandingan besar sebelumnya di liga,” katanya, menunjukkan pemahaman mendalamnya akan makna pertandingan ini bagi seluruh elemen Persebaya, mulai dari manajemen, pemain, hingga Bonek, para suporter fanatik Bajul Ijo.
Stadion Gelora Bung Tomo, dengan kapasitas puluhan ribu penonton, dipastikan akan kembali membara. Ribuan Bonek siap memadati setiap sudut stadion, menciptakan atmosfer yang intimidatif bagi tim lawan dan memberikan suntikan semangat luar biasa bagi Persebaya. Deru chant dan yel-yel yang tak henti akan menjadi melodi pengiring sepanjang 90 menit pertandingan, mengiringi setiap sentuhan bola, setiap tekel, dan setiap peluang yang tercipta. Tekanan dari tribun penonton akan menjadi faktor tambahan yang harus diatasi oleh kedua tim, namun bagi Persebaya, dukungan Bonek adalah energi tak terbatas yang mendorong mereka untuk berjuang hingga titik darah penghabisan.
Laga Persebaya vs Arema dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (22/11/2025) pukul 15.30 WIB. Ini akan menjadi pertarungan strategi di lapangan hijau, adu mental di bawah tekanan, dan pembuktian siapa yang terbaik di Jawa Timur. Meski tanpa Fransisco Rivera, Persebaya Surabaya di bawah komando Eduardo Perez telah menunjukkan tekad kuat untuk tidak mencari alasan dan siap memberikan segalanya demi kemenangan. Dengan kedalaman skuad yang memadai dan mentalitas tanpa menyerah yang tertanam kuat, Bajul Ijo berambisi menjadikan GBT sebagai benteng tak tertembus dan mempersembahkan kemenangan berharga bagi para pendukung setianya. Pertandingan ini kembali diprediksi berlangsung panas, dengan setiap momen yang berpotensi menjadi penentu hasil akhir. Kemenangan menjadi target tak terelakkan, bukan hanya untuk tiga poin, tetapi juga untuk harga diri dan kebanggaan.
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita rakyatindependen.id


