Gelombang awan panas guguran (APG) dari puncak Gunung Semeru kembali menyisakan duka mendalam bagi warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, khususnya para peternak. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan jumlah ternak yang menjadi korban keganasan erupsi, mencapai angka 174 ekor yang dipastikan mati dan harus dimusnahkan dengan cara dibakar. Insiden ini tidak hanya menghilangkan aset berharga bagi para peternak, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam serta ancaman wabah penyakit yang membutuhkan penanganan cepat dan komprehensif.
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang mencatat 143 ekor ternak mati akibat erupsi awan panas pada Kamis (20/11/2025). Angka tersebut terus bertambah seiring dengan upaya pelacakan dan evakuasi di area terdampak. Per Minggu (23/11/2025), jumlah ternak yang mati telah melonjak menjadi 174 ekor. Rinciannya mencakup 168 ekor domba dan kambing, serta 4 ekor sapi. Mayoritas ternak yang menjadi korban berasal dari Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, sebuah wilayah yang secara geografis berada di jalur rawan terdampak erupsi Semeru.
Kehilangan ratusan ternak ini merupakan pukulan telak bagi perekonomian lokal. Bagi sebagian besar warga di kaki Semeru, ternak bukan hanya sekadar hewan peliharaan, melainkan tulang punggung utama mata pencaharian mereka. Sapi, domba, dan kambing adalah investasi jangka panjang yang hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, bahkan modal usaha lainnya. Asap tebal dan awan panas yang menyapu permukiman mereka telah merenggut harapan dan masa depan yang mereka bangun dengan susah payah. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa banyak peternak yang tidak sempat menyelamatkan ternak mereka karena kecepatan dan intensitas awan panas yang datang secara tiba-tiba.
Proses pemusnahan bangkai ternak yang mati terdampak erupsi Semeru ini menjadi prioritas utama. Tim dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskeswan Pasirian, yang dipimpin oleh dr. Hewan Zulfika Gayoh, secara sigap bergerak ke lokasi terdampak untuk menjalankan tugas yang tidak mudah ini. Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar, sebuah metode yang dipilih bukan tanpa alasan. Pembakaran bangkai ternak adalah langkah krusial untuk mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kebersihan lingkungan. Bangkai yang membusuk dalam jumlah besar berpotensi menjadi sarang bakteri, virus, dan hama yang dapat memicu wabah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Selain itu, bau busuk dari ratusan bangkai hewan juga akan sangat mengganggu dan membahayakan kesehatan warga yang tinggal di sekitar lokasi.
- Kediri Perkuat Birokrasi Progresif: Wali Kota Vinanda Lantik 136 Pejabat, 10 Lurah Perempuan Jadi Garda Terdepan Wujudkan Visi MAPAN
- Surabaya Menyambut Malaysia Fair 2025: Sinergi Pariwisata, Kesehatan, dan Budaya dalam Kolaborasi Perdana Tourism Malaysia dan MHTC.
- Tragedi Surabaya: Polsek Tegalsari, Cagar Budaya Bersejarah, Rata dengan Tanah Akibat Kerusuhan Dahsyat
"Data terakhir yang sudah kami terima dan terlacak itu dari hewan sapinya ada 4 yang mati. Kemudian untuk kambing dombanya ada 168," terang Zulfika saat dijumpai di blok Umbulan, Dusun Sumbersari, Minggu (23/11/2025). Ia menambahkan bahwa pemusnahan bangkai ternak masih dilakukan secara bertahap. Tim bekerja ekstra keras di tengah medan yang menantang dan potensi bahaya susulan dari aktivitas gunung berapi. Proses pembakaran dilakukan di lokasi-lokasi yang aman, dengan penggalian lubang besar untuk menampung bangkai, kemudian dilakukan pembakaran menggunakan bahan bakar tertentu untuk memastikan bangkai benar-benar hangus dan tidak menyisakan potensi bahaya. Petugas juga dilengkapi dengan alat pelindung diri lengkap untuk menjaga kesehatan dan keselamatan mereka selama bertugas.

Pekerjaan tim Puskeswan tidak berhenti pada pemusnahan. Mereka juga terus melakukan pelacakan untuk mengetahui jumlah keseluruhan ternak yang mati terdampak erupsi. Zulfika mengemukakan bahwa jumlah ini masih sangat mungkin bertambah. "Untuk ternak yang mati dan bangkainya sudah ditemukan, itu kita musnahkan dengan cara dibakar. Tapi untuk yang belum ditemukan ya dianggap hilang, dan ini kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah," ungkapnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti sulitnya akses ke beberapa titik terdampak yang masih rawan, serta belum semua peternak melaporkan kehilangan ternaknya. Banyak ternak yang mungkin tertimbun material vulkanik atau terbawa arus lahar dingin sehingga sulit ditemukan.
Dampak erupsi Semeru tidak hanya terbatas pada kematian ternak. Abu vulkanik yang pekat juga menutupi lahan pertanian dan perkebunan, merusak tanaman pangan dan pakan ternak. Kondisi ini menciptakan krisis pakan bagi ternak yang selamat, sekaligus mengancam ketahanan pangan di wilayah tersebut. Pemerintah daerah dan berbagai lembaga kemanusiaan telah bergerak untuk menyalurkan bantuan berupa pakan ternak, obat-obatan, serta bantuan logistik lainnya bagi warga terdampak. Namun, skala kerusakan yang masif membutuhkan upaya pemulihan jangka panjang yang terencana dan berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, perhatian juga harus diberikan pada pemulihan psikologis para peternak. Kehilangan aset utama yang telah mereka rawat dengan kasih sayang seringkali menimbulkan kesedihan mendalam dan perasaan putus asa. Program pendampingan psikososial dan bantuan modal untuk memulai kembali usaha peternakan menjadi sangat penting agar mereka dapat bangkit dari keterpurukan ini. DKPP Lumajang bersama instansi terkait sedang merumuskan skema bantuan dan rehabilitasi bagi para peternak, termasuk kemungkinan penyaluran bibit ternak baru dan pelatihan manajemen peternakan yang lebih tangguh terhadap bencana.
Selain itu, edukasi dan sosialisasi mengenai mitigasi bencana bagi peternak juga menjadi krusial. Sistem peringatan dini yang efektif, jalur evakuasi yang jelas untuk manusia dan ternak, serta pembangunan kandang darurat di lokasi yang lebih aman, perlu terus ditingkatkan. Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih siap menghadapi ancaman bencana alam yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sekitar "Ring of Fire" Indonesia. Gunung Semeru, sebagai salah satu gunung api paling aktif di Jawa, akan terus menunjukkan aktivitasnya, dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk meminimalkan dampak buruk yang ditimbulkan.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan organisasi non-pemerintah sangat dibutuhkan untuk membangun kembali kehidupan di kaki Semeru. Mulai dari penanganan pasca-bencana, rehabilitasi lingkungan, pemulihan ekonomi, hingga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana di masa mendatang. Tragedi kematian ratusan ternak ini adalah pengingat betapa rentannya kehidupan di daerah rawan bencana, sekaligus menyoroti ketangguhan semangat para peternak Lumajang yang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan. Jalan menuju pemulihan memang panjang dan berliku, namun harapan untuk kembali membangun masa depan yang lebih baik tak boleh padam.
Dapatkan berita terkini lainnya di rakyatindependen.id.


