PAREPARE, FAJAR.CO.ID – Pertandingan pekan ke-11 Super League 2025/2026 antara PSM Makassar dan Madura United di Stadion Gelora BJ Habibie, Minggu (2/11/2025), berakhir dengan skor imbang 1-1, namun menyisakan kekecewaan mendalam bagi kubu tuan rumah. Asisten pelatih PSM Makassar, Ahmad Amiruddin, secara terbuka melayangkan kritik keras terhadap kinerja wasit Gideon Dapaherang, menyoroti serangkaian keputusan kontroversial dan penggunaan Video Assistant Referee (VAR) yang dinilai tidak optimal.
Amiruddin mengungkapkan kekecewaannya bukan semata-mata karena hasil imbang yang diraih timnya, melainkan lebih kepada kualitas kepemimpinan wasit yang dianggapnya sangat merugikan PSM Makassar. Ia menuding Gideon Dapaherang gagal menjalankan tugasnya secara adil dan profesional, terutama dalam momen-momen krusial yang seharusnya ditinjau ulang melalui VAR.
"Ada VAR, dia tidak gunakan itu," ujar Amiruddin dengan nada kesal usai pertandingan. Pernyataan ini menjadi inti dari kekecewaan PSM Makassar, yang merasa dirugikan oleh ketidaktegasan wasit dalam memanfaatkan teknologi VAR untuk mengambil keputusan yang tepat.
Amiruddin, yang mengaku jarang mengomentari kinerja wasit, merasa terpanggil untuk berbicara kali ini karena menilai kesalahan-kesalahan yang dilakukan Gideon Dapaherang tidak bisa ditoleransi. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang di pertandingan-pertandingan berikutnya, demi menjaga integritas dan kualitas kompetisi Super League.
- Indonesia Kembali Tanpa Gelar dari China Masters 2025: Fajar/Fikri Terhenti di Semifinal
- Peluang Meroket di Ranking FIFA: Prediksi Kenaikan Peringkat Timnas Indonesia Jika Sapu Bersih Kemenangan Kontra Taiwan
- Gerald Vanenburg di Ujung Tanduk: Dua Kegagalan Beruntun Bersama Timnas Indonesia U-23, Kontrak Terancam?
"Saya orang yang tidak pernah kritik kinerja wasit, tapi kali ini saya harus bicara. Kesalahan-kesalahan seperti ini tidak boleh terulang di pertandingan berikutnya," tegasnya.
Kritik pedas yang dilontarkan Ahmad Amiruddin mencerminkan kekecewaan mendalam dari seluruh elemen PSM Makassar, mulai dari pemain, pelatih, hingga suporter. Mereka merasa perjuangan tim di lapangan telah ternodai oleh kepemimpinan wasit yang dianggap tidak becus dan merugikan.
Pertandingan itu sendiri berlangsung cukup sengit, dengan kedua tim saling jual beli serangan. Madura United berhasil unggul terlebih dahulu melalui gol yang dicetak Taufany di menit ke-45+1, memanfaatkan kelengahan lini belakang PSM Makassar.
Tertinggal satu gol, PSM Makassar berusaha keras untuk menyamakan kedudukan di babak kedua. Serangan demi serangan dilancarkan, namun rapatnya pertahanan Madura United membuat para pemain PSM kesulitan untuk menembus gawang lawan.

Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-87, ketika pemain pengganti Abdul Rahman berhasil mencetak gol penyeimbang. Gol ini disambut dengan sorak sorai gembira oleh para suporter PSM Makassar yang memadati Stadion Gelora BJ Habibie.
Meski berhasil menyamakan kedudukan, PSM Makassar tetap merasa kecewa karena gagal meraih poin penuh di kandang sendiri. Mereka merasa seharusnya bisa memenangkan pertandingan jika wasit Gideon Dapaherang menjalankan tugasnya dengan lebih baik dan memanfaatkan VAR secara optimal.
Kekecewaan terhadap kinerja wasit juga dirasakan oleh para suporter PSM Makassar. Di media sosial, mereka ramai-ramai mengecam kepemimpinan Gideon Dapaherang dan menuntut agar PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia memberikan sanksi tegas kepada wasit yang dianggap tidak profesional.
Para suporter juga menyoroti beberapa momen kontroversial dalam pertandingan tersebut yang seharusnya ditinjau ulang melalui VAR, seperti potensi pelanggaran di kotak penalti dan offside yang luput dari pengamatan wasit. Mereka menilai ketidaktegasan wasit dalam memanfaatkan VAR telah merugikan PSM Makassar dan memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Insiden ini menambah panjang daftar kontroversi yang melibatkan wasit di kompetisi sepak bola Indonesia. Sebelumnya, beberapa pertandingan lain juga diwarnai dengan keputusan-keputusan kontroversial wasit yang memicu protes dari klub-klub yang merasa dirugikan.
PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia diharapkan dapat mengambil tindakan tegas terhadap wasit-wasit yang melakukan kesalahan dan meningkatkan kualitas kepemimpinan wasit secara keseluruhan. Hal ini penting untuk menjaga integritas dan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia, serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap kinerja wasit.
Selain itu, PSSI juga perlu meningkatkan sosialisasi dan edukasi mengenai penggunaan VAR kepada para wasit dan pemain. Hal ini bertujuan agar VAR dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan yang tepat dan adil.
Kontroversi yang terjadi dalam pertandingan antara PSM Makassar dan Madura United menjadi momentum bagi PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perwasitan di Indonesia. Perbaikan sistem perwasitan merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia dan mewujudkan sepak bola Indonesia yang bersih, profesional, dan berprestasi.
Kekecewaan terhadap kinerja wasit Gideon Dapaherang bukan hanya dirasakan oleh PSM Makassar, tetapi juga oleh sebagian besar pecinta sepak bola Indonesia. Mereka menilai kualitas kepemimpinan wasit di Indonesia masih jauh dari harapan dan perlu ditingkatkan secara signifikan.
Para pecinta sepak bola berharap PSSI dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki sistem perwasitan di Indonesia, sehingga kejadian serupa tidak terulang di pertandingan-pertandingan berikutnya. Mereka juga berharap para wasit dapat menjalankan tugasnya secara adil, profesional, dan tanpa tekanan dari pihak manapun.
Dengan perbaikan sistem perwasitan, diharapkan kompetisi sepak bola Indonesia dapat berjalan lebih fair dan kompetitif, sehingga dapat menghasilkan pemain-pemain berkualitas yang mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Selain itu, kepercayaan publik terhadap sepak bola Indonesia juga akan meningkat, sehingga semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menyaksikan dan mendukung tim-tim kebanggaan mereka.
Pertandingan antara PSM Makassar dan Madura United menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait, terutama bagi PSSI dan para wasit. Mereka harus belajar dari kesalahan dan berupaya untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan wasit secara keseluruhan. Dengan begitu, sepak bola Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia.
Kritik keras yang dilontarkan Ahmad Amiruddin terhadap kinerja wasit Gideon Dapaherang mencerminkan betapa pentingnya peran wasit dalam sebuah pertandingan sepak bola. Wasit bukan hanya sekadar pengadil di lapangan, tetapi juga penentu jalannya pertandingan dan hasil akhir. Oleh karena itu, seorang wasit harus memiliki integritas, profesionalisme, dan kemampuan yang mumpuni agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan adil.
PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia harus memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kualitas kepemimpinan wasit. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pelatihan yang intensif, sertifikasi yang ketat, dan evaluasi yang berkelanjutan. Selain itu, PSSI juga perlu memberikan dukungan dan perlindungan kepada para wasit agar mereka dapat menjalankan tugasnya tanpa tekanan dari pihak manapun.
Dengan kualitas kepemimpinan wasit yang baik, diharapkan kompetisi sepak bola Indonesia dapat berjalan lebih fair, kompetitif, dan menghibur. Selain itu, kepercayaan publik terhadap sepak bola Indonesia juga akan meningkat, sehingga semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menyaksikan dan mendukung tim-tim kebanggaan mereka.
Insiden yang terjadi dalam pertandingan antara PSM Makassar dan Madura United menjadi momentum bagi PSSI untuk melakukan reformasi sistem perwasitan di Indonesia. Reformasi ini harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua pihak terkait, mulai dari wasit, pelatih, pemain, hingga suporter. Dengan reformasi sistem perwasitan, diharapkan sepak bola Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia.

