Gelombang Pemecatan Menghantam Pelatih Portugal di Super League 2025/2026: Nasib Malang Tavares, Almeida, dan Lemos, Tinggal Divaldo Alves Berjuang

By angling dharmaSunday, 23 November 2025, 23:0013

Kompetisi Super League musim 2025/2026 memasuki masa krusial, mendekati paruh musim dengan tensi persaingan yang semakin membara. Di tengah sengitnya perebutan poin dan ambisi meraih gelar juara, sebuah fenomena menarik perhatian: gelombang pemecatan yang menimpa para pelatih, khususnya mereka yang berasal dari Portugal. Dari sekian banyak juru taktik yang harus angkat kaki dari klub yang mereka latih akibat performa yang tidak memuaskan, nasib pelatih asal Portugal menjadi sorotan utama. Hingga pekan ke-13, tercatat tiga nama pelatih berkebangsaan Portugal yang harus mengakhiri kerjasama dengan klubnya, baik karena pengunduran diri maupun pemecatan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang menyebabkan para pelatih Portugal ini gagal bersinar di Super League musim ini?

Nama pertama yang menjadi korban adalah Bernardo Tavares. Pelatih yang dikenal dengan tangan dinginnya ini memutuskan untuk mengakhiri kerjasamanya dengan PSM Makassar pada awal Oktober lalu. Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat Tavares sebelumnya mampu membawa PSM Makassar meraih prestasi yang cukup membanggakan. Namun, performa PSM Makassar yang kurang konsisten di awal musim 2025/2026 disinyalir menjadi penyebab utama Tavares memilih untuk mengundurkan diri.

Tak lama berselang, giliran Eduardo Almeida yang harus kehilangan pekerjaannya. Semen Padang FC mengumumkan berakhirnya kerjasama dengan pelatih kepala asal Portugal ini. Almeida, yang diharapkan mampu membawa Semen Padang FC bersaing di papan atas Super League, ternyata gagal memenuhi ekspektasi. Performa tim yang tidak stabil dan hasil yang kurang memuaskan membuat manajemen Semen Padang FC mengambil keputusan berat untuk memberhentikan Almeida.

Terbaru, Persijap Jepara, tim promosi yang berambisi untuk menunjukkan tajinya di Super League, mengumumkan berakhirnya kerjasama dengan pelatih kepala Mario Lemos pada Jumat, 21 November 2025. Keputusan ini diambil secara baik-baik setelah melalui serangkaian diskusi mengenai arah pengembangan jangka panjang klub. Meskipun Lemos telah berusaha keras untuk mengangkat performa Persijap Jepara, namun hasil yang dicapai masih belum sesuai dengan harapan manajemen.

"Kami berterima kasih kepada Coach Mario atas energi dan kepemimpinannya selama menangani Persijap Jepara. Kami berpisah dengan penuh rasa hormat dan mendoakan kesuksesan beliau di perjalanan berikutnya," kata Presiden Persijap, Iqbal Hidayat dalam keterangannya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perpisahan antara Persijap Jepara dan Mario Lemos dilakukan secara profesional dan dengan saling menghormati.

Dengan catatan kurang baik yang ditorehkan oleh para pelatih asal Portugal di Super League musim ini, tentu menjadi alarm berbahaya bagi pelatih Portugal lainnya yang masih bertahan. Sejak awal musim, tercatat ada empat pelatih asal Portugal yang memimpin klub-klub Super League. Kini, hanya tersisa satu nama, yaitu Divaldo Alves yang menukangi PSBS Biak. Namun, performa PSBS Biak di bawah asuhan Alves juga bisa dikatakan jauh dari harapan. Tim berjuluk Badai Pasifik ini masih kesulitan untuk bersaing dengan tim-tim papan atas dan terancam terjerumus ke zona degradasi.

Lantas, apa yang menyebabkan para pelatih Portugal ini gagal bersinar di Super League musim ini? Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Pertama, perbedaan budaya dan adaptasi. Sepak bola Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan sepak bola Eropa, khususnya Portugal. Para pelatih Portugal mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan budaya sepak bola Indonesia, termasuk gaya bermain, mentalitas pemain, dan ekspektasi suporter.

Kedua, kualitas pemain. Meskipun Super League terus berkembang, namun kualitas pemain secara keseluruhan masih belum selevel dengan liga-liga top di Eropa. Para pelatih Portugal mungkin kesulitan untuk menerapkan strategi dan taktik yang mereka inginkan karena keterbatasan kualitas pemain yang mereka miliki.

Gelombang Pemecatan Menghantam Pelatih Portugal di Super League 2025/2026: Nasib Malang Tavares, Almeida, dan Lemos, Tinggal Divaldo Alves Berjuang

Ketiga, tekanan dari manajemen dan suporter. Di Indonesia, tekanan dari manajemen dan suporter sangat besar. Para pelatih dituntut untuk memberikan hasil yang instan dan memuaskan. Jika tim mengalami kekalahan atau performa yang menurun, tekanan akan semakin besar dan dapat mempengaruhi kinerja pelatih.

Keempat, persaingan yang ketat. Super League musim 2025/2026 diisi oleh banyak pelatih berkualitas, baik lokal maupun asing. Persaingan untuk meraih kemenangan dan posisi yang lebih baik sangat ketat. Para pelatih Portugal harus mampu bersaing dengan pelatih-pelatih lainnya yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik tentang sepak bola Indonesia.

Melihat kondisi ini, nasib Divaldo Alves di PSBS Biak menjadi tanda tanya besar. Jika Alves tidak mampu mengangkat performa PSBS Biak dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin ia akan menyusul jejak Tavares, Almeida, dan Lemos. Gelombang pemecatan pelatih Portugal di Super League musim 2025/2026 menjadi bukti bahwa kesuksesan di sepak bola tidak hanya bergantung pada kualitas pelatih, tetapi juga pada faktor-faktor lain seperti adaptasi, kualitas pemain, tekanan, dan persaingan.

Kisah para pelatih Portugal yang bertumbangan di Super League musim ini menjadi pelajaran berharga bagi para pelatih asing lainnya yang ingin berkarier di Indonesia. Mereka harus mempersiapkan diri dengan baik dan beradaptasi dengan cepat agar tidak mengalami nasib yang sama. Selain itu, klub-klub Super League juga harus lebih selektif dalam memilih pelatih asing dan memberikan dukungan yang cukup agar mereka dapat bekerja dengan maksimal.

Super League musim 2025/2026 masih panjang. Masih banyak pertandingan yang akan dimainkan dan banyak kejutan yang mungkin terjadi. Kita akan terus melihat bagaimana para pelatih, termasuk Divaldo Alves, berjuang untuk meraih kesuksesan dan membawa timnya meraih prestasi yang membanggakan. Namun satu hal yang pasti, gelombang pemecatan pelatih Portugal di Super League musim ini menjadi catatan kelam yang akan selalu diingat.

# #