Site icon Rakyatindependen

Guru di Surabaya Wajib Jemput Siswa yang Bolos, Disdik: Cegah Rawan Putus Sekolah

Guru di Surabaya Wajib Jemput Siswa yang Bolos, Disdik: Cegah Rawan Putus Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang telah lama diterapkan, namun kini diperbarui agar lebih relevan dan efektif menghadapi tantangan kekinian. "Penanganan rawan putus sekolah itu sudah lama (diterapkan). Tapi model itu harus diupdate sesuai dengan dengan kondisi anak-anak saat ini," kata Yusuf, Rabu (26/11/2025). Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi metode pencegahan putus sekolah dengan dinamika sosial, ekonomi, dan psikologis yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. Perubahan zaman menuntut pendekatan yang lebih personal, responsif, dan melibatkan berbagai pihak.

Secara teknis, implementasi kebijakan ini dirancang dengan prosedur yang terstruktur dan berjenjang. Sebelum guru melakukan penjemputan atau kunjungan ke rumah (home visit), langkah awal yang wajib dilakukan adalah menghubungi orang tua atau wali siswa. Prosedur ini krusial untuk memverifikasi alasan ketidakhadiran. Komunikasi awal ini bertujuan untuk membedakan antara siswa yang memang memiliki izin sah, baik karena sakit atau keperluan keluarga, dengan siswa yang mangkir tanpa pemberitahuan. Jika setelah dihubungi orang tua mengonfirmasi bahwa anak mereka tidak izin dan tidak ada di rumah, atau tidak ada respons sama sekali, barulah langkah home visit diambil.

"Kita lihat kondisinya, misalnya ada yang memang izin itu kan sudah jelas. Tapi kalau yang enggak izin satu, dua hari itu sudah (harus) home visit," jelas Yusuf. Penekanan pada "satu, dua hari" menunjukkan urgensi intervensi. Disdik Surabaya tidak ingin menunggu terlalu lama hingga ketidakhadiran menjadi kebiasaan atau masalah yang lebih besar. Pendekatan proaktif ini diharapkan dapat memutus rantai potensi bolos sekolah yang berujung pada putus sekolah, serta mencegah siswa terjerumus pada kegiatan negatif di luar lingkungan pendidikan. Home visit bukan hanya sekadar menjemput siswa, tetapi juga kesempatan bagi guru untuk berinteraksi langsung dengan keluarga, memahami kondisi lingkungan rumah, dan mencari tahu akar penyebab ketidakhadiran siswa. Ini bisa jadi karena masalah ekonomi keluarga, kesulitan belajar, bullying di sekolah, masalah pergaulan, hingga isu kesehatan mental yang mungkin tidak terdeteksi sebelumnya.

Dukungan dari orang tua menjadi salah satu pilar keberhasilan kebijakan ini. Yusuf menambahkan bahwa inisiatif menjemput siswa bolos sekolah ini mendapat respons positif dari banyak orang tua. Mereka melihat kebijakan ini sebagai bentuk kepedulian nyata dari pihak sekolah dan pemerintah terhadap masa depan anak-anak mereka. "Beberapa orang tua yang empati langsung saling support (kebijakan) ini. Harapan kami, nanti anak-anak semakin giat, belajarnya semakin meningkat," ucap Yusuf. Dukungan orang tua sangat fundamental, karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketika orang tua merasa didukung dan dilibatkan, motivasi mereka untuk bekerja sama dengan sekolah dalam mendisiplinkan dan memotivasi anak akan meningkat. Mereka berharap kebijakan ini dapat memicu kedisiplinan yang lebih baik, semangat belajar yang lebih tinggi, dan pada akhirnya, prestasi akademik yang meningkat bagi anak-anak mereka.

Angka putus sekolah, terutama di perkotaan, seringkali dipicu oleh berbagai faktor kompleks. Masalah ekonomi keluarga yang mengharuskan anak bekerja, lingkungan pergaulan yang kurang kondusif, kurangnya motivasi belajar, hingga tekanan psikologis seperti bullying atau merasa tidak mampu mengikuti pelajaran, adalah beberapa di antaranya. Dengan kebijakan penjemputan ini, Disdik Surabaya berupaya menjangkau siswa-siswa yang rentan tersebut sebelum mereka benar-benar terjerumus. Intervensi dini sangat krusial dalam menyelamatkan potensi masa depan anak bangsa.

Kebijakan ini juga menuntut peran guru yang lebih dari sekadar pengajar di kelas. Guru dituntut untuk memiliki kepekaan sosial, kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang tua, serta keterampilan dalam melakukan pendekatan persuasif kepada siswa. Mereka bukan hanya fasilitator ilmu, tetapi juga mentor, konselor, dan bahkan "penyelamat" bagi siswa yang berpotensi menyimpang dari jalur pendidikan. Oleh karena itu, Disdik Surabaya kemungkinan besar juga akan memberikan pelatihan atau panduan khusus kepada para guru agar mereka siap menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi selama proses home visit. Aspek keamanan dan etika juga menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan kunjungan rumah ini.

Selain itu, keberhasilan jangka panjang kebijakan ini akan sangat bergantung pada tindak lanjut setelah siswa berhasil dijemput dan dikembalikan ke sekolah. Apakah siswa tersebut akan mendapatkan konseling khusus? Apakah ada program remedial untuk mengejar ketertinggalan pelajaran? Atau adakah dukungan psikososial jika terdeteksi masalah yang lebih dalam? Disdik Surabaya perlu memastikan bahwa ada sistem dukungan yang komprehensif agar siswa yang dijemput tidak hanya kembali ke bangku sekolah secara fisik, tetapi juga secara mental dan akademik. Ini mencakup peran aktif guru Bimbingan Konseling (BK), psikolog sekolah, serta koordinasi dengan dinas sosial atau lembaga terkait jika diperlukan penanganan lebih lanjut.

Inisiatif ini merupakan bagian dari visi Pemkot Surabaya untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing. Pendidikan yang merata dan berkualitas adalah fondasi utama untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan mengurangi angka putus sekolah, Surabaya tidak hanya menyelamatkan individu dari keterpurukan, tetapi juga berinvestasi pada masa depan kota dan bangsa. Anak-anak yang terus bersekolah memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, berkontribusi pada perekonomian, dan menjadi warga negara yang produktif.

Penerapan kebijakan serupa sebenarnya juga telah diinisiasi di beberapa daerah lain di Indonesia, namun dengan modifikasi sesuai konteks lokal. Surabaya menunjukkan kepemimpinan dalam mengadaptasi dan memperkuat pendekatan ini, menjadikannya model yang bisa dicontoh oleh kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa. Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat, diharapkan angka putus sekolah di Surabaya dapat ditekan seminimal mungkin, dan setiap anak Surabaya memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impian melalui pendidikan. Komitmen ini tidak hanya tentang aturan, tetapi tentang kepedulian yang mendalam terhadap setiap individu.

rakyatindependen.id

Exit mobile version