Jejak Gelap Dewi Astutik: Kisah Pilu dari Balong, Ponorogo, hingga Jerat Narkoba di Kamboja

15 Likes Comment
Jejak Gelap Dewi Astutik: Kisah Pilu dari Balong, Ponorogo, hingga Jerat Narkoba di Kamboja

Di tengah hiruk pikuk berita penangkapan gembong narkoba internasional yang menggemparkan, nama Dewi Astutik mendadak menjadi sorotan. Namun, di balik identitas yang kini tercoreng, terhampar kisah pilu seorang wanita dari sudut terpencil Ponorogo, Jawa Timur, yang perjalanannya berakhir tragis di Kamboja. Kisah ini terungkap melalui pengakuan Sarno, sang suami, yang kini harus menanggung beban berat di rumah sederhana mereka di Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo. Sebuah tugu tani menjadi penanda menuju rumah berukuran 8×12 meter yang dicat putih itu, tempat Sarno, 51 tahun, menjalani hari-harinya dalam kesendirian yang pahit.

Sarno hidup tanpa kedua orang tuanya yang telah lama tiada, sementara dua putri kembarnya kini menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di Bumi Reog. Kehidupan Sarno yang jauh dari kemewahan adalah cerminan perjuangan seorang kepala keluarga yang ditinggalkan oleh sang istri, Paryatin, nama asli dari Dewi Astutik. Mereka menikah pada tahun 2008, dan kebahagiaan sempat menyelimuti rumah tangga mereka dengan kelahiran putri kembar. Namun, desakan ekonomi yang kian menghimpit mulai mengikis kebahagiaan itu. Pada tahun 2013, ketika anak-anak mereka belum genap berusia empat tahun, Paryatin memutuskan untuk merantau ke Taiwan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) demi memperbaiki nasib keluarga.

Keputusan itu menjadi titik balik yang tak terduga dalam hidup Paryatin. Demi memuluskan langkahnya, ia nekat menggunakan identitas adiknya, Dewi Astutik, sebuah langkah yang di kemudian hari menjadi bagian dari jejak gelap yang ia tinggalkan. "Jadi sejak awal pergi ke Taiwan itu, memang sudah menggunakan nama Dewi Astutik, nama adik kandungnya," tutur Sarno dengan nada lesu pada Rabu (3/12/2025), mengingat kembali awal mula perjalanan istrinya yang penuh misteri. Selama sepuluh tahun, dari tahun 2013 hingga 2023, Dewi Astutik alias Paryatin bekerja di Taiwan. Sepanjang dekade itu, ia tak pernah sekalipun menginjakkan kaki kembali ke tanah air, ke rumah yang ditinggalkannya di Balong. Komunikasi antara Dewi dan keluarganya pun terbilang sangat jarang dan terbatas. Paling banter, hanya sebulan sekali, Dewi Astutik menelepon, itupun lebih sering berbicara dengan anak-anaknya. "Ya teleponnya ke anak-anak," kata Sarno, menyingkap betapa renggangnya hubungan mereka seiring berjalannya waktu dan jarak yang membentang.

Meskipun harapan awalnya adalah memperbaiki ekonomi keluarga, kenyataan yang terjadi jauh panggang dari api. Bertahun-tahun bekerja di luar negeri, nyatanya tidak membuat kondisi finansial keluarga Sarno membaik secara signifikan. Kiriman uang dari Dewi Astutik sangat jarang, hanya sesekali ia mengirimkan sejumlah kecil uang "buat jajan anak-anak." Kondisi ini berbanding terbalik dengan gambaran umum tentang PMI yang seringkali mampu membangun rumah atau mengirimkan uang dalam jumlah besar untuk keluarga mereka di kampung. Keterbatasan ini membuat Sarno harus berjuang sendirian. Ia banting tulang bekerja serabutan, menyanggupi segala pekerjaan yang ditawarkan kepadanya demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan kedua putrinya yang sedang menempuh pendidikan di pondok.

Purnomo, Ketua RT setempat sekaligus tetangga Sarno, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami Sarno. "Pak Suparno selama ini kerjanya ya serabutan," ungkap Purnomo, menggambarkan bagaimana Sarno kerap menjadi buruh tani di sawah tetangga, kadang membantu mengangkat hasil panen, atau menerima pekerjaan apa pun yang datang menghampiri, mulai dari kuli bangunan lepas hingga membersihkan pekarangan. Penghasilan yang tidak menentu itu, seringkali hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya pondok kedua putri kembarnya. Kehidupan Sarno adalah potret nyata dari perjuangan dan kesetiaan seorang suami yang harus menghadapi pahitnya kenyataan hidup seorang diri, dengan harapan tipis akan masa depan yang lebih baik yang dijanjikan oleh sang istri di negeri orang.

Jejak Gelap Dewi Astutik: Kisah Pilu dari Balong, Ponorogo, hingga Jerat Narkoba di Kamboja

Pada tahun 2023, setelah satu dekade di Taiwan, Dewi Astutik akhirnya kembali ke rumahnya di Balong. Setahun penuh ia berada di rumah, mencoba menata kembali kehidupannya dan berinteraksi dengan keluarga yang telah lama ia tinggalkan. Selama masa itu, Dewi pernah membuka usaha kecil-kecilan, berjualan nasi bungkus. Usaha ini mungkin merupakan upayanya untuk beradaptasi kembali dengan kehidupan di Ponorogo dan mencari penghasilan yang halal di tanah air. Namun, tampaknya usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan atau mungkin Dewi sudah terlanjur terbiasa dengan kehidupan di luar negeri. Di penghujung tahun 2023, ia kembali membulatkan tekad untuk merantau. "Pamitnya ingin kembali ke bosnya dulu di Taiwan. Tetapi ternyata malah di Kamboja," kenang Sarno, suaranya dipenuhi kekecewaan dan kebingungan. Perubahan tujuan dari Taiwan ke Kamboja ini menjadi misteri lain dalam perjalanan hidup Dewi, yang di kemudian hari terkuak sebagai bagian dari jaringan kejahatan yang lebih besar.

Sarno sendiri mengaku sudah menasihati istrinya untuk tidak lagi bekerja di luar negeri. Ia berharap Dewi bisa menetap di rumah dan membangun kembali keluarga mereka. Namun, Dewi bersikukuh dengan keputusannya. "Sudah saya nasehati untuk tidak lagi bekerja di luar negeri, tetapi tetap ngotot. Mengurus semua keperluannya sendiri," kata Sarno, menggambarkan betapa kuatnya keinginan Dewi untuk kembali merantau, sebuah keinginan yang tidak dapat ia pahami sepenuhnya saat itu. Kepergian Dewi pada awal tahun 2024 itulah yang kemudian membawa kabar buruk yang tak terbayangkan. Informasi terkait penangkapan Dewi Astutik di Kamboja sebagai gembong narkoba kelas internasional oleh BNN membuat keluarga Sarno syok. Dunia mereka seolah runtuh dalam sekejap.

Sarno mengaku tidak tahu menahu tentang pekerjaan istrinya di luar negeri, apalagi sepak terjangnya yang kini disinyalir sebagai gembong narkoba kelas internasional. "Saya tidak tahu, soal sepak terjangnya gak tahu saya," tegas Sarno, ekspresi wajahnya memancarkan kebingungan dan keputusasaan yang mendalam. Pengakuannya ini menunjukkan betapa terputusnya komunikasi dan informasi antara dirinya dan sang istri selama bertahun-tahun. Sarno hanya mengetahui bahwa istrinya bekerja sebagai PMI, namun tidak pernah menyangka bahwa profesi itu akan mengantarkannya pada jerat kejahatan narkoba yang begitu besar. Kebingungan Sarno juga mencerminkan realitas banyak keluarga PMI di Indonesia, di mana seringkali ada celah informasi yang besar antara pekerja di luar negeri dan keluarga di kampung halaman, membuka peluang bagi praktik-praktik ilegal atau eksploitasi.

Kini, Sarno dan keluarganya hanya bisa pasrah dengan masalah yang menimpa Dewi Astutik. Beban mental dan sosial yang harus mereka pikul sangatlah berat. Sebagai suami, ia menyerahkan semua keputusan kepada pihak yang berwajib dan proses hukum yang berlaku. "Saya hanya pasrah saja sebagai suami," pungkas Sarno, suaranya bergetar menahan emosi. Rasa pasrah ini bukan tanpa alasan; ia merasa tidak berdaya menghadapi kenyataan pahit yang kini membayangi kehidupan keluarganya. Masyarakat di sekitar rumah Sarno pun turut merasakan dampak dari kabar mengejutkan ini. Purnomo, sang Ketua RT, menyatakan bahwa warga turut prihatin dengan nasib Sarno dan anak-anaknya. Kehidupan sederhana yang selama ini mereka jalani kini diuji oleh cobaan yang tak terduga.

Kisah Dewi Astutik alias Paryatin adalah sebuah tragedi modern yang kompleks, menggabungkan isu migrasi pekerja, tekanan ekonomi, identitas ganda, dan jerat kejahatan transnasional. Dari sebuah desa kecil di Ponorogo, dengan impian memperbaiki nasib, ia menempuh perjalanan panjang hingga ke Taiwan dan Kamboja, namun berujung pada penangkapan sebagai gembong narkoba. Kisah ini menjadi peringatan keras akan bahaya dan risiko yang mungkin dihadapi para pekerja migran, serta pentingnya pengawasan dan dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan. Bagi Sarno dan kedua putrinya, masa depan kini diselimuti ketidakpastian, hanya ada harapan tipis akan keadilan dan kesempatan untuk kembali menata hidup setelah badai berlalu.

rakyatindependen.id

Jejak Gelap Dewi Astutik: Kisah Pilu dari Balong, Ponorogo, hingga Jerat Narkoba di Kamboja

You might like

About the Author: angling dharma