Musim kompetisi Super League 2025/2026 tampaknya menjadi musim yang paling kelam dalam sejarah panjang PSM Makassar. Tim berjuluk Juku Eja ini, yang dikenal sebagai klub tertua di Indonesia dan belum pernah sekalipun merasakan pahitnya terdegradasi, kini berada di ambang jurang degradasi. Ancaman ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan kenyataan pahit yang mengintai di setiap pertandingan yang tersisa. Posisi tim yang berada di peringkat ke-13 klasemen sementara, hanya berjarak lima poin dari zona merah, menjadi bukti nyata betapa gentingnya situasi yang dihadapi skuad asuhan pelatih Tomas Trucha.
Perjalanan PSM Makassar di musim ini memang jauh dari kata memuaskan. Sejak ditangani oleh pelatih asal Republik Ceko, Tomas Trucha, performa tim menunjukkan tren negatif yang mengkhawatirkan. Dalam 15 pertandingan yang dipimpinnya, PSM hanya mampu meraih 4 kemenangan, 2 hasil imbang, dan menelan 9 kekalahan. Catatan statistik yang suram ini mencerminkan ketidakmampuan tim untuk menemukan konsistensi dan performa terbaiknya. Akibatnya, PSM terperosok ke posisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh para pendukungnya, bahkan oleh para pengamat sepak bola sekalipun.
Pengamat sepak bola, Imran Amirullah, tidak menampik kemungkinan terjadinya degradasi bagi PSM Makassar di akhir musim ini. Menurutnya, jika skenario terburuk ini terjadi, maka itu akan menjadi catatan sejarah yang sangat buruk bagi klub berjuluk Juku Eja tersebut. "Kalau PSM degradasi, sejarah akan mencatat kalau tim tertua yang selama ini satu-satunya tim Liga 1 yang belum terdegradasi," ujar Imran kepada Fajar.co.id, Rabu (4/3). Pernyataan Imran Amirullah ini menggarisbawahi betapa krusialnya status PSM sebagai satu-satunya tim yang belum pernah terdegradasi sejak liga profesional bergulir. Degradasi akan merusak rekor prestisius yang telah dijaga selama puluhan tahun.
Besarnya beban yang ditanggung oleh PSM Makassar saat ini tidak bisa diremehkan. Selain tekanan dari para pendukung yang setia, ada juga beban sejarah dan gengsi yang harus diemban. PSM Makassar bukan sekadar klub sepak bola biasa, melainkan sebuah institusi yang memiliki akar sejarah kuat di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 1915, PSM telah menjadi saksi dan bagian dari perkembangan sepak bola nasional. Ribuan pemain telah mengenakan seragam kebanggaan ini, dan jutaan orang telah bersorak untuk kemenangan mereka. Mengalami degradasi akan menjadi luka yang mendalam bagi seluruh elemen yang mencintai PSM.
Ancaman degradasi ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi para pemain, staf pelatih, manajemen, dan terutama para suporter setia PSM. Para suporter, yang dikenal dengan semangat "Ewako"-nya, pasti merasa terpukul melihat tim kesayangan mereka berada di zona berbahaya. Mereka telah memberikan dukungan tanpa henti, baik di kandang maupun tandang, berharap PSM bisa bangkit dan memperbaiki performanya. Namun, kenyataan di lapangan seringkali jauh dari harapan.
Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi pada performa buruk PSM musim ini bisa jadi beragam. Mulai dari masalah di lini pertahanan yang seringkali rapuh, lini tengah yang kurang kreatif, hingga lini serang yang tumpul. Rotasi pemain yang kurang efektif, strategi pelatih yang kurang jitu, atau bahkan masalah internal tim bisa menjadi penyebabnya. Selain itu, persaingan di Liga 1 musim ini juga semakin ketat, dengan banyak tim yang menunjukkan peningkatan kualitas permainan.
Pihak manajemen PSM Makassar tentu saja harus segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi krisis ini. Evaluasi menyeluruh terhadap performa tim, strategi permainan, dan bahkan komposisi pemain perlu dilakukan. Jika diperlukan, perubahan dalam jajaran pelatih atau penambahan amunisi pemain di bursa transfer paruh musim bisa menjadi opsi yang dipertimbangkan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan membangkitkan semangat juang mereka.
Dalam situasi yang genting ini, peran para pemain senior dan kapten tim menjadi sangat krusial. Mereka harus mampu menjadi motor penggerak tim, memberikan motivasi kepada rekan-rekannya, dan memimpin di lapangan dengan performa terbaik. Komunikasi yang baik antara pemain, pelatih, dan manajemen juga sangat dibutuhkan untuk menemukan solusi terbaik.
Para suporter pun memiliki peran penting dalam memberikan dukungan moril. Meskipun performa tim belum memuaskan, dukungan tanpa syarat dari suporter dapat memberikan energi positif bagi para pemain untuk terus berjuang. Namun, kritik yang konstruktif juga penting untuk membantu tim melakukan perbaikan.
Perjuangan PSM Makassar untuk lolos dari ancaman degradasi akan menjadi ujian terbesar dalam sejarah klub. Jika mereka berhasil keluar dari situasi sulit ini, maka itu akan menjadi bukti ketangguhan dan semangat juang yang luar biasa. Namun, jika degradasi harus diterima, maka itu akan menjadi pelajaran berharga yang harus dijadikan momentum untuk bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih besar di masa depan.
Kisah PSM Makassar di musim 2025/2026 ini bisa menjadi pengingat bagi seluruh tim di Liga 1 bahwa kompetisi sepak bola selalu dinamis dan penuh kejutan. Tidak ada tim yang kebal dari performa buruk atau ancaman degradasi. Kedisiplinan, kerja keras, strategi yang matang, dan mentalitas juara adalah kunci untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Meskipun saat ini ancaman degradasi begitu nyata, harapan untuk melihat PSM Makassar bertahan di Liga 1 masih ada. Setiap pertandingan yang tersisa harus dianggap sebagai final. Para pemain harus mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka, bermain dengan hati dan kebanggaan sebagai bagian dari PSM. Para pelatih harus mampu meracik strategi yang tepat dan membangkitkan semangat juang para pemain. Manajemen harus memberikan dukungan penuh dan memastikan segala kebutuhan tim terpenuhi.
Sejarah mencatat PSM Makassar sebagai klub yang penuh prestasi dan kebanggaan. Ancaman degradasi ini adalah sebuah episode yang memilukan, namun bukan akhir dari segalanya. Dengan semangat "Ewako" yang terus berkobar, PSM Makassar memiliki potensi untuk bangkit dan membuktikan bahwa mereka layak berada di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Perjuangan masih panjang, dan setiap detil akan sangat berarti dalam menentukan nasib tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini. Degradasi akan menjadi noda kelam, namun bangkit dari keterpurukan akan menjadi kisah heroik yang akan dikenang sepanjang masa.

