Tuban, sebuah kabupaten yang kaya akan potensi dan sejarah di Jawa Timur, kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun fondasi kebangsaan yang kuat, terutama di kalangan generasi muda. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tuban mengambil langkah proaktif dengan menggandeng para pelajar SMA/SMK sederajat serta tokoh pemuda dari tiga kecamatan, yaitu Tuban, Palang, dan Semanding, untuk mengikuti sosialisasi wawasan kebangsaan. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Lantai 3 Pemkab Tuban ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah investasi strategis dalam memperkuat pemahaman Generasi Z mengenai nilai-nilai luhur kebangsaan, esensi bela negara, serta mendorong partisipasi aktif mereka dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Generasi Z, yang dikenal sebagai ‘digital native’ dengan akses informasi yang nyaris tak terbatas, seringkali dihadapkan pada tantangan globalisasi dan arus budaya asing yang masif. Dalam konteasi inilah, Kesbangpol Tuban melihat urgensi untuk menanamkan dan menyegarkan kembali pemahaman dasar tentang semangat kebangsaan kepada kelompok demografi yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa depan. Kepala Badan Kesbangpol Tuban, Yudi Irwanto, menjelaskan secara rinci bahwa kegiatan ini dirancang secara khusus untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar memahami dan menginternalisasi konsep bela negara melalui cara yang relevan dengan dinamika kehidupan mereka saat ini. "Hari ini kami mengadakan sosialisasi wawasan kebangsaan bela negara dengan diikuti 100 orang peserta," ujar Yudi Irwanto, pada Selasa (18/11/2025), menggarisbawahi skala dan fokus acara tersebut.
Seratus peserta yang hadir merupakan representasi dari berbagai sekolah negeri dan swasta setingkat SMA/SMK, serta para tokoh pemuda yang memiliki pengaruh di lingkungannya masing-masing. Pemilihan peserta dari tiga kecamatan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat Tuban, Palang, dan Semanding merupakan wilayah yang memiliki karakteristik sosial-ekonomi yang beragam dan strategis, mencakup wilayah perkotaan, pesisir, dan pertanian, sehingga representasi pemahaman kebangsaan dapat menyebar secara merata. Sosialisasi ini secara khusus menyasar pemahaman dasar mengenai prinsip-prinsip kebangsaan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), yang meliputi pilar-pilar penting seperti cinta tanah air, wawasan kebangsaan, serta nilai-nilai fundamental Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila sebagai ideologi negara, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai konstitusi, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dalam keberagaman.
Yudi Irwanto menekankan bahwa Permendagri secara tegas mengamanatkan pentingnya generasi muda memahami dan mengamalkan nilai-nilai ini. "Khususnya saat ini ditekankan dari Permendagri bahwa mereka harus mengetahui tentang cinta tanah air, tentang wawasan kebangsaan dan di dalamnya kan ada tentang NKRI, Pancasila, UUD dan Bhinneka Tunggal Ika," imbuhnya. Penekanan ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada aspek teoritis, tetapi juga pada implementasi praktis dari nilai-nilai kebangsaan tersebut.
- Amuk Massa Bakar Gedung DPRD Blitar: Jadwal Paripurna Terancam, Kerugian Signifikan Ditaksir
- Wali Kota Mojokerto Beri Respons Komprehensif: Tiga Raperda Inisiatif DPRD Siap Perkuat Pilar Pembangunan Kota
- Mengurai Ironi Pertambangan Magetan: Sumbangsih Rp700 Juta Vs. Biaya Sosial dan Lingkungan yang Tak Terhingga
Cinta tanah air, dalam konteks ini, tidak hanya dimaknai sebagai sikap patriotisme yang bersifat seremonial, tetapi juga sebagai tindakan nyata dalam menjaga lingkungan, melestarikan budaya lokal, mendukung produk dalam negeri, serta turut serta dalam pembangunan daerah. Wawasan kebangsaan menuntut generasi muda untuk memiliki pemahaman yang komprehensif tentang sejarah, geografi, sosial, dan budaya Indonesia, sehingga mereka dapat melihat diri mereka sebagai bagian integral dari bangsa yang besar ini. Pemahaman akan NKRI berarti kesadaran akan pentingnya menjaga keutuhan wilayah dan persatuan bangsa dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar. Pancasila sebagai dasar negara harus dipahami sebagai panduan moral dan etika dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang mampu menjadi benteng terhadap ideologi-ideologi yang bertentangan. UUD 1945 memberikan kerangka hukum dan menjamin hak serta kewajiban setiap warga negara, sementara Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan toleransi, saling menghargai, dan mengakui keberagaman sebagai kekayaan, bukan sumber perpecahan.

Yudi menambahkan bahwa nilai kebangsaan perlu diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh Generasi Z yang saat ini merupakan kelompok terbesar dalam populasi pelajar. Ia memberikan contoh sederhana yang sangat relevan dengan kehidupan sosial mereka: "Misalkan, ada di sekolah atau di lingkungannya ada orang meninggal ya sewajarnya ikut takziah, sehingga mereka diharapkan tanggap terhadap lingkungannya," terang Yudi. Contoh ini menunjukkan bahwa bela negara dan wawasan kebangsaan tidak selalu harus diartikan dalam konteks militeristik atau heroik yang besar, melainkan dapat dimulai dari kepedulian sosial, empati, dan partisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang membentuk karakter solidaritas.
Selain itu, masih banyak perilaku positif lain yang dapat dikembangkan para pelajar dan pemuda sebagai wujud penerapan wawasan kebangsaan, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Misalnya, aktif dalam kegiatan sukarela, menjaga kebersihan lingkungan, menolak hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, menghargai perbedaan pendapat, serta berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik untuk mengharumkan nama bangsa dan daerah. Ini semua adalah bentuk-bentuk konkret dari bela negara yang relevan dengan kehidupan Generasi Z.
Untuk memperkaya materi dan memberikan perspektif yang beragam, Kesbangpol menghadirkan narasumber dari berbagai institusi yang memiliki otoritas dan pengalaman dalam bidangnya. Para pemateri tersebut meliputi perwakilan dari Bakesbangpol sendiri yang menjelaskan kerangka kebijakan dan visi kebangsaan, Kodim 0811 Tuban yang memberikan perspektif mengenai pertahanan negara dan disiplin, Polres Tuban yang mengulas aspek keamanan dan ketertiban masyarakat serta peran pemuda dalam menjaga kamtibmas, serta Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban yang mewakili suara rakyat dan peran legislatif dalam mendukung program-program kebangsaan.
"Kalau untuk pemateri langsung dari Bakesbangpol, Kodim 0811 Tuban, Polres Tuban dan Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban," pungkas Yudi, menandaskan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Kehadiran narasumber dari berbagai latar belakang ini sangat penting. Bakesbangpol memberikan landasan filosofis dan regulasi. Kodim 0811 Tuban membawa dimensi pertahanan non-militer, menanamkan jiwa ksatria, disiplin, dan pengabdian. Polres Tuban memberikan pemahaman tentang pentingnya hukum, ketertiban sosial, serta bagaimana pemuda dapat menjadi agen perdamaian dan keamanan di lingkungannya, termasuk dalam menghadapi tantangan kejahatan siber dan penyebaran informasi palsu. Sementara itu, Komisi II DPRD Tuban memberikan gambaran tentang bagaimana aspirasi masyarakat, termasuk pemuda, dapat disalurkan melalui jalur politik dan bagaimana kebijakan publik dapat dirumuskan untuk mendukung penguatan wawasan kebangsaan di tingkat lokal.
Melalui sinergi ini, diharapkan para peserta tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga inspirasi dan motivasi untuk menjadi agen perubahan yang positif. Program sosialisasi semacam ini merupakan investasi jangka panjang bagi Kabupaten Tuban dan Indonesia secara keseluruhan. Dengan membekali Generasi Z pemahaman yang kokoh tentang wawasan kebangsaan, pemerintah daerah berharap dapat mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas dan adaptif terhadap teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral, rasa cinta tanah air yang mendalam, serta komitmen yang kuat untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan kemajuan bangsa. Ini adalah langkah krusial dalam memastikan bahwa nilai-nilai luhur bangsa Indonesia tetap lestari dan menjadi panduan bagi perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita rakyatindependen.id


