Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah, yang lebih dikenal dengan nama Ecoton Foundation, berhasil menyita perhatian luas pengunjung Festival Pameran Seni di Taman Bahari Mojopahit (TBM), Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, pada penyelenggaraan beberapa waktu lalu. Kehadiran Ecoton tidak sekadar mengisi ruang pameran, melainkan membawa misi edukasi yang mendalam dan mendesak tentang krisis sampah plastik yang semakin mengancam kehidupan. Dengan dua instalasi seni edukatif yang dirancang secara cermat, Ecoton berhasil membuka mata banyak pihak, khususnya para pelajar, terhadap bahaya laten mikroplastik yang kini telah meresap ke dalam setiap aspek lingkungan dan bahkan tubuh manusia.
Dua karya instalasi yang menjadi sorotan utama adalah "Kran Plastik" dan sebuah akuarium yang menyimulasikan bayi yang terkontaminasi mikroplastik. "Kran Plastik" bukan sekadar patung, melainkan sebuah representasi visual yang kuat dan mengganggu. Instalasi ini menggambarkan sebuah keran raksasa yang tidak mengalirkan air, melainkan tumpahan sampah plastik yang tak ada habisnya. Tujuannya jelas: untuk menyoroti realitas banjir sampah plastik yang menggenangi kehidupan sehari-hari kita, sebuah metafora gamblang tentang konsumsi berlebihan dan pengelolaan limbah yang buruk. Setiap potongan plastik, setiap kemasan yang terlihat pada instalasi tersebut, seolah berteriak tentang ancaman yang tak terlihat namun nyata. Melalui kran ini, Ecoton ingin menyampaikan pesan bahwa sumber daya yang seharusnya jernih dan murni, seperti air, kini terancam oleh invasi plastik yang tak terkendali.
Sementara itu, instalasi kedua, "Akuarium Bayi yang Terkontaminasi Mikroplastik," menghadirkan gambaran yang lebih personal dan mengerikan. Akuarium ini menampilkan manekin bayi yang dikelilingi oleh partikel-partikel kecil menyerupai mikroplastik, menciptakan suasana yang seharusnya steril dan penuh harapan, namun justru disusupi oleh ancaman tak kasat mata. Karya ini berfungsi sebagai simbolisasi yang gamblang tentang bagaimana ancaman mikroplastik telah merasuk ke dalam rantai makanan dan berpotensi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini adalah peringatan keras bahwa masa depan anak cucu kita terancam oleh jejak-jejak plastik yang kita tinggalkan hari ini. Instalasi ini memicu refleksi mendalam tentang tanggung jawab kita sebagai generasi sekarang untuk menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup di masa mendatang. Kehadiran dua karya seni yang menohok ini menjadi titik paling ramai dikunjungi, terutama oleh rombongan pelajar dari SMPN 8 Kota Mojokerto, yang menunjukkan bahwa pendekatan visual yang kuat dapat menjadi jembatan efektif untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan yang kompleks.
Bagi banyak pelajar yang datang, kunjungan ke stan Ecoton merupakan pengalaman yang membuka wawasan baru. Mereka mengaku baru mengetahui bahwa mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, bisa ditemukan dalam air yang mereka minum, makanan yang mereka santap, bahkan di dalam tubuh manusia. Informasi ini sering kali menjadi kejutan besar, mengubah persepsi mereka tentang isu sampah plastik yang selama ini mungkin hanya dianggap sebagai masalah estetika lingkungan. Ecoton, melalui pendekatan visual yang kuat dan interaktif, secara efektif mengajak para pelajar memahami bahwa polusi plastik bukan sekadar isu lingkungan semata, melainkan juga menyangkut kesehatan masyarakat global dan keberlanjutan kehidupan itu sendiri.
- Membuka Lembaran Baru Industri Buah Nasional: Akademi Buah Nusantara dan UPN Jatim Bersinergi Cetak Generasi Ahli Buah Tropis Berkelas Dunia
- Kejari Bondowoso Serahkan Alphard dan Rumah Mewah ke BRI: Eksekusi Barang Bukti Kasus Korupsi KUR Fiktif, Tegaskan Pemulihan Kerugian Negara
- Generasi Muda, Pilar Utama Kemajuan Bangsa: Gerindra Surabaya Gaungkan Peran Kritis dalam Pembangunan Legislasi
Dalam sesi edukasi singkat yang dipandu oleh tim Ecoton, para pelajar diajak untuk menyelami lebih dalam dunia mikroplastik. Mereka diperkenalkan pada berbagai jenis mikroplastik, mulai dari fragmen (pecahan plastik yang lebih besar), pelet (bahan baku plastik), hingga filamen (serat plastik dari pakaian). Penjelasan ini dilengkapi dengan pemaparan tentang dampaknya terhadap ekosistem laut, darat, serta tubuh manusia. Tim Ecoton menjelaskan bagaimana mikroplastik dapat mengganggu sistem pencernaan hewan laut, menyebarkan zat kimia berbahaya, hingga potensi akumulasi dalam organ tubuh manusia yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius, termasuk gangguan hormonal dan inflamasi.

Salah satu metode pembelajaran yang paling berkesan adalah penggunaan mikroskop portable stereo. Dengan alat ini, para siswa diberikan kesempatan untuk mengamati secara langsung sampel air hujan yang telah terkontaminasi. Pengalaman belajar yang langsung dan nyata tersebut membuat pemahaman para pelajar semakin membekas dan personal. Mereka bisa melihat dengan mata kepala sendiri partikel-partikel asing yang tak terlihat oleh mata telanjang, yang selama ini mungkin mereka hirup atau konsumsi tanpa sadar. Ini adalah momen "aha!" yang mengubah pandangan mereka secara drastis, dari sekadar mendengarkan teori menjadi menyaksikan bukti nyata.
Alaika Rahmatullah, Divisi Edukasi Ecoton, menjelaskan urgensi dari upaya edukasi ini. "Mikroplastik ini telah masuk ke dalam rantai makanan, air hujan, bahkan di air minum yang kita konsumsi setiap hari. Melalui pameran ini, kami mengajak semua pelajar untuk bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, demi menjaga air hujan dan air minum kita tetap sehat dan bersih," ujarnya pada Jumat lalu, menegaskan bahwa perubahan perilaku individu adalah kunci utama dalam mengatasi krisis ini. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya kesadaran kolektif dan tindakan nyata dari setiap lapisan masyarakat.
Momen paling menarik dan paling mengejutkan bagi banyak pengunjung terjadi ketika beberapa pelajar mencoba menguji sampel Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang mereka bawa sendiri. Dengan bimbingan tim Ecoton, mereka meletakkan tetesan air dari botol AMDK ke bawah lensa mikroskop. Hasil pengamatan tersebut benar-benar mengejutkan: di bawah perbesaran mikroskop, tampak jelas adanya mikroplastik berbentuk filamen tipis transparan yang melayang-layang dalam sampel air tersebut. Penemuan ini secara langsung menepis anggapan umum bahwa air kemasan selalu aman dan bebas dari kontaminan.
Guru pendamping dari SMPN 8 Kota Mojokerto, Bapak Rama, adalah salah satu yang paling terkejut dengan temuannya. "Saya kira air kemasan itu aman, tapi ternyata ada mikroplastiknya yang berbentuk seperti serpihan plastik transparan. Jadi ternyata mikroplastik itu benar-benar dekat banget dengan kita, bahkan di dalam air yang kita percaya paling bersih," ujarnya dengan nada kaget dan prihatin. Pengalaman ini tidak hanya mengubah pandangan para siswa, tetapi juga para pendidik, yang kini memiliki pemahaman lebih mendalam tentang ancaman yang harus mereka sampaikan kepada generasi mendatang. Mereka menyadari bahwa edukasi lingkungan harus dimulai dari hal-hal yang paling dekat dan paling relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Keikutsertaan Ecoton dalam Festival Pameran Seni TBM Mojokerto diharapkan tidak hanya menjadi pameran sesaat, melainkan sebagai pembuka ruang edukasi publik yang lebih luas dan berkelanjutan mengenai bahaya mikroplastik. Ecoton berharap dapat mendorong masyarakat Mojokerto untuk semakin peduli terhadap kualitas lingkungan mereka, terutama sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan. Sungai Brantas, sebagai salah satu sungai terpanjang di Jawa Timur yang melintasi Mojokerto, adalah arteri kehidupan yang vital namun juga rentan terhadap polusi plastik. Melalui kesadaran dan tindakan nyata, diharapkan masyarakat dapat bersama-sama menjaga kelestarian sungai dan lingkungan sekitar, memastikan bahwa air yang mengalir tetap bersih dan sehat bagi semua. Edukasi ini adalah langkah awal menuju perubahan budaya yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, di mana setiap individu memahami dampak dari pilihan konsumsi mereka dan bertekad untuk menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita rakyatindependen.id


