Pangku dan Upaya Pendobrakan Sindrom Cinderella Complex

By angling dharmaSaturday, 15 November 2025, 15:1111

Cinderella, dalam esensinya, adalah mitos yang kita peluk erat, sebuah selimut hangat untuk menipu realitas yang seringkali terasa buntu, kejam, dan tanpa harapan. Sebab di dunia nyata yang kita pijak, kereta kencana sangat jarang datang menjemput; yang lebih sering kita temui adalah debu jalanan yang menyesakkan, raungan ban truk yang memekakkan, dan nasib yang, ironisnya, terasa tak tertebus.

Maka, ketika sebuah karya seni dengan berani menolak memberikan janji manis itu, ketika ia tak sudi menghadirkan bahkan sekadar secuil harapan untuk diselamatkan, ia secara otomatis bertransformasi menjadi sebuah catatan penting yang menggetarkan tentang zaman kita. Karya semacam itu tak lagi berfungsi sebagai hiburan semata; ia mengganggu, menantang, dan memaksa kita untuk melihat apa yang selama ini kita hindari.

Pangku (2025) adalah gangguan itu, sebuah cermin retak yang sengaja diletakkan di jalur Pantura, di mana tak ada jejak dongeng yang tersisa. Debut sutradara Reza Rahadian melalui film ini menjadi tamparan realisme yang brutal, tak kenal kompromi. Jauh dari kemewahan dongeng modern seperti film Cinderella (2015) atau bahkan film-film subversif yang cerdas seperti Anora (2024), Pangku adalah potret kegetiran kaum hawa di jalur Pantura yang dengan tegas menolak memberi kita impian.

Ada sebuah trope psikologis yang akrab dikenal sebagai "Cinderella Complex," sebuah fantasi yang mendarah daging dalam alam bawah sadar banyak perempuan, di mana seorang individu yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, pada akhirnya akan diselamatkan oleh seorang pangeran kaya raya. Ini adalah narasi klise tentang penyelamatan melalui pernikahan, sebuah jalan pintas yang diidamkan menuju status sosial yang lebih tinggi dan kebahagiaan abadi.

Sinema modern telah bergulat dengan mitos ini dalam berbagai cara yang menarik: ada yang dengan setia memeluknya dan mengulanginya, ada yang mencoba mendekonstruksinya dengan cerdas, dan ada pula yang memilih untuk menghancurkannya tanpa ampun. Reza Rahadian dalam Pangku (2025), bagi saya, berdiri sebagai antitesis paling radikal terhadap impian romantis tersebut. Film ini tidak datang untuk bernegosiasi dengan fantasi; ia datang untuk membakarnya habis, hingga tak tersisa abu pun.

Pangku dan Upaya Pendobrakan Sindrom Cinderella Complex

Pangku secara fundamental menolak narasi penyelamatan yang menjadi inti Cinderella Complex, membedakan dirinya tidak hanya dari dongeng klasik yang abadi tetapi juga dari karya subversif modern yang paling sinis sekalipun. Untuk memahami di mana Pangku berdiri dalam spektrum ini, kita harus terlebih dahulu melihat dua pilar utama yang dikontraskannya: fantasi murni dan dekonstruksi brutal.

Lebih dari itu, Pangku seolah mengajak kita untuk kembali pada realisme sosial yang jujur. Di mana alur kehidupan tak pernah statis, melainkan berjalan dengan ritme yang tak pernah bisa ditebak, penuh liku, dan seringkali kejam.

Fantasi Murni Cinderella: Candu yang Manis

Pilar pertama adalah arketipe itu sendiri, yang paling jelas terwujud dalam film Cinderella (2015), adaptasi modern dari kisah legenda Cinderella. Cerita ini berpusat pada seorang gadis miskin yang saleh, menderita di bawah kekuasaan ibu tiri yang antagonis dan saudara tiri yang kejam. Kebaikan hatinya yang pasif adalah satu-satunya agensinya, satu-satunya "senjata" yang ia miliki. Dia tidak melawan, dia hanya bertahan, menunggu keajaiban.

Cerita ini menampilkan sebuah rekayasa imajinatif yang tampaknya mustahil terjadi di dunia nyata: seorang perempuan miskin, tanpa daya, dilamar oleh seorang pria kaya raya dari kerajaan, dengan akhir yang happy ending sempurna, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Dongeng ini, barangkali, adalah candu yang paling manis yang pernah diciptakan manusia, sebuah janji bahwa penderitaan yang ditanggung dengan sabar dan pasrah akan berbuah keajaiban yang mengubah segalanya. Penyelamatan datang dari luar, dalam bentuk sepatu kaca yang pas, dan Cinderella lantas mendapat validasi serta status sosial dari seorang pangeran. Ini adalah puncak dari Cinderella Complex, sebuah fantasi yang tak lekang oleh waktu.

Melihat Dekonstruksi Brutal Anora (2024): Setelah Janji Datang

Di sisi lain spektrum, kita memiliki karya sinematik yang jauh lebih kompleks seperti Anora (2024). Jika Cinderella adalah fantasi murni, maka Anora adalah dekonstruksinya yang cerdas dan brutal. Film karya Sean Baker yang memenangkan Palme d’Or ini adalah kombinasi luar biasa antara komedi gelap, drama sosial yang menyayat hati, dan romansa yang kacau balau.

Anora mengeksplorasi kehidupan Ani (diperankan Mikey Madison), seorang pekerja seks asal Brooklyn, yang mendapati hidupnya berubah drastis setelah pernikahan kilat dengan Ivan, anak seorang oligarki Rusia. Dalam sekejap, Ani mendapatkan pangerannya. Dia berhasil keluar dari kemiskinan dan masuk ke dalam kemewahan yang tak terbayangkan. Momen Cinderellanya, dalam artian tertentu, tercapai di babak pertama film.

Namun, Sean Baker tidak tertarik pada narasi "hidup bahagia selamanya" yang klise. Sebab, tema utama Anora adalah perjuangan kelas sosial yang tak ada habisnya dan eksploitasi yang tak terhindarkan. Film ini membawa perhatian pada sisi lain dari kehidupan perkotaan Amerika, dengan menyoroti mereka yang hidup di pinggiran masyarakat, yang kerap diabaikan.

Alih-alih diselamatkan secara permanen, Ani justru masuk ke medan perang yang baru dan lebih berbahaya. Pernikahannya bukan akhir dari masalah, melainkan awal dari mimpi buruk yang lebih besar. Dia harus berhadapan dengan mertua oligarki yang mengirim preman-preman bayaran untuk membatalkan pernikahan itu dengan cara apa pun.

Anora menggambarkan kekuatan Ani untuk bertahan di dunia yang keras dengan humor, keberanian, dan kerentanan yang menyentuh, menciptakan narasi yang menyentuh sekaligus penuh energi. Di balik humornya yang tajam, Anora menyampaikan pesan kuat tentang daya tahan manusia dan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Ani menjadi simbol perjuangan untuk mempertahankan integritas dan martabat di tengah tekanan eksternal yang luar biasa. Film Anora telah berhasil menggabungkan elemen klasik dan modern, membuktikan kemampuan Sean Baker dalam menciptakan cerita yang emosional, relevan, dan menghibur. Anora mengatakan bahwa Cinderella Complex itu nyata, tetapi happily ever after hanyalah sebuah ilusi yang harus diperjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata.

Pangku (2025) dan Realitas Tanpa Penebusan: Hancurnya Impian

Lalu, di mana posisi Pangku (2025) dalam spektrum ini? Film ini menyajikan kisah yang sama sekali berbeda dari keduanya. Ia tidak merayakan fantasi seperti Cinderella, juga tidak mendekonstruksinya dengan energi thriller komedi seperti Anora. Pangku hadir sebagai antitesis total, sebuah pukulan telak yang tak terduga. Ia menatap Cinderella Complex tepat di matanya dan tertawa getir, karena bagi para karakternya, fantasi itu menjadi kemewahan yang bahkan tak pernah terpikirkan, sebuah konsep yang terlalu jauh dari jangkauan realitas mereka.

Pangku dan Upaya Pendobrakan Sindrom Cinderella Complex

Film ini berangkat dari premis yang sama: seorang perempuan miskin, Sartika Puspita (diperankan dengan rapuh dan penuh penjiwaan oleh Claresta Taufan), yang sedang mencari kerja. Namun, takdirnya jauh dari istana mewah atau apartemen oligarki. Lokasinya saja sudah menjadi pernyataan yang kuat: jalur panas Pantai Utara Jawa, Pantura. Di tengah latar waktu krisis moneter 1998 yang mencekik, ia lalu mendapat pekerjaan secara dramatis, bukan sebagai pelayan yang akan ditemukan pangeran, tapi sebagai seorang pangku, wanita penghibur di warung kopi remang-remang.

Di sinilah Reza Rahadian, dalam debut penyutradaraannya, berupaya menghancurkan ekspektasi penonton. Pangku memanusiakan mereka yang terjebak dalam fenomena kopi pangku. Bersama rumah produksi Gambar Gerak, Reza meramu film drama yang mengkontraskan kegetiran dan rumitnya bertahan hidup di remang-remang Pantura. Dulu, misalnya, Wiji Thukul memvisualisasikan fenomena serupa lewat puisi Malam di Kota Khatulistiwa, hari ini Reza Rahadian merekamnya dalam film Pangku dengan pendekatan yang begitu humanis dan mudah dicerna.

Dibintangi oleh Fedi Nuril, Claresta Taufan, Christine Hakim, hingga aktor cilik Shakeel Fauzi, Pangku merekam aneka dimensi manusia yang terjebak fenomena warung kopi pangku di kawasan Pantura Indramayu, Jawa Barat. Reza mengaku sudah memendam premis tentang isu sosial dan ekonomi itu sejak tujuh tahun terakhir.

Dalam pemutaran khusus dan diskusi filmnya di Kemang, Jakarta Selatan (16/10/2025), Reza berkisah bahwa Pangku berawal dari pengalamannya melihat sendiri fenomena itu setelah selesai syuting sebuah film pada 2018. “Kita enggak turun (dan mampir), hanya melewati saja. Dulu mereka persis di pinggir jalan Panturanya, terus mereka digusur-gusur. Mereka nomaden sebetulnya. Terus saya kepikiran kalau bikin film, saya mau di sini lokasinya dan mengangkat isu dan fenomena ini karena secara latar belakang menarik dan jarang ada di film Indonesia juga,” tutur Reza dalam diskusi itu.

Meski memotret kehidupan keras di Pantura, Reza, yang juga bertindak sebagai penulis skenario bersama Felix K. Nesi, tak ingin menonjolkan apalagi menjual aspek kemiskinan dan penderitaan secara murahan. Pangku menghadirkan pendekatan realis yang jujur apa adanya tentang kehidupan para sopir di pelelangan ikan, para buruh tani di persawahan, hingga pemilik dan pelayan warung kopi.

Pangku tidak hanya membahas perjuangan seorang perempuan membesarkan anaknya secara tunggal, tetapi juga isu gender dan ekonomi berbasis gender yang kompleks, tradisi seni budaya dan kuliner lokal, sosio kultural masyarakat pesisir dan marjinal, sampai masalah ketimpangan sosial yang meresahkan.

Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya. Alih-alih menemukan pangeran, tokoh utama Pangku, Sartika, justru menemukan realitas yang lebih brutal dan tak terduga. Film ini tidak menawarkan jalan pintas romantis atau solusi instan. Jika Anora adalah tentang perjuangan melawan eksploitasi dalam kekayaan yang baru ditemukan, maka Pangku adalah tentang penerimaan nasib dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung.

Fedi Nuril, yang memerankan tokoh Hadi si sopir pick up pelelangan ikan, melakukan riset mendalam. Bahkan dalam sebuah pengakuan, ia menyebut truk (mobil pick up) yang dipakainya sampai dibawa ke rumah selama tiga hari. “Keliling-keliling pakai itu. Di Indramayu, satu hari saya observasi bagaimana keseharian orang-orang di situ lalu saya terapkan ke karakter saya,” ujar Fedi dalam kesempatan yang sama.

Pangku juga menghadirkan karakternya yang berlapis-lapis dimensi dengan perspektif humanis yang mendalam. Tentang para wanita yang sering dicap negatif itu sejatinya juga manusia yang harus bertahan hidup dengan pilihan mencari nafkah terbatas. Tokoh Sartika Puspita tak lain adalah personifikasi dari banyak perempuan, khususnya ibu tunggal, yang terjebak dalam fenomena itu.

Pemeran Sartika Puspita, Claresta Taufan, menimpali, “Di Pantura saya ngobrol langsung dengan mereka yang profesinya sama dengan Sartika dan juga ibu (pemilik) warung supaya bisa engage. Saya bisa lebih mengerti perspektif kehidupan di Pantura dari mereka langsung. Mereka tahu (hidup mereka) itu tidak mudah tapi mereka tidak mengeluh, tidak menyalahkan keadaan, tidak menyalahkan orang lain. Mereka perempuan yang bisa diambil sisi positifnya soal bertahan hidup.”

Dan klimaks film ini? Jauh dari happy ending yang diidamkan. Endingnya menampilkan sesuatu yang gontai, rapuh, dan lelah. Ini semacam potret murni nasib perjuangan seorang ibu yang berkali-kali disakiti semesta. Setelah memiliki anak pertama (diperankan Shakeel Fauzi) tanpa bapak, Sartika kemudian bertemu seorang suami Hadi (Fedi Nuril) yang ia harap bisa menjadi sandaran hidupnya. Harapan itu sempat muncul. Mungkin ini pangerannya? Mungkin ini jalan keluarnya?

Tidak. Takdir berkata lain. Terungkap bahwa si pria bajingan ini telah memiliki istri sah. Ironisnya, Sartika kini tengah hamil anak kedua darinya. Scene itu ditutup bukan dengan pernikahan di istana, melainkan dengan adegan di mana sang suami baru pergi bersamanya sang istri sah, meninggalkan Sartika seorang diri.

Ia dibiarkan seorang diri, kini dengan dua anak yang harus dihidupi, kembali ke titik nol, atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Reza Rahadian tidak memberi kita pahlawan wanita yang berani melawan sistem seperti Ani di Anora, apalagi seorang putri yang diselamatkan seperti Cinderella. Pangku menyajikan kita seorang perempuan yang kalah, yang satu-satunya perjuangan adalah untuk tetap bernapas esok hari karena memiliki dua orang anak yang bergantung padanya.

Capaian Artistik dan Bahasa Sinema: Sebuah Standar Baru

Peribahasa a picture is worth a thousand words jadi gambaran paling tepat dalam menggambarkan Pangku. Hanya dalam waktu kurang dari dua jam (1 jam 40 menit), Reza membuktikan dirinya bukan hanya sebagai prodigy actor yang fenomenal, tetapi juga sebagai sutradara baru dengan potensi yang begitu cemerlang.

Istilah “lagi-lagi” Reza Rahadian akan sulit hilang, karena ia mampu mengarahkan dan menulis film dengan standar yang kurang lebih sama dengan kualitas aktingnya yang selalu memukau. Pangku terinspirasi dari pengalaman pribadi Reza menemukan tradisi kopi pangku dan sebagai anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibu tunggal.

Film ini lebih dari sekadar surat cinta Reza untuk ibunya. Felix K. Nesi dan Reza membuktikan riset mendalam adalah kunci cerita yang baik dan otentik. Bila dibandingkan dengan produk jurnalistik, Pangku adalah laporan mendalam yang menyelam hingga ke akar permasalahan, dengan penulisan yang mengalir dan tanpa basa-basi. Namun dengan bobot yang layak menjadi bahan studi akademis, Pangku tidak tampil sebagai film festival yang membosankan. Reza dan Felix tidak menulis dengan banyak dialog diktat atau pengajaran; semua tersaji dalam bentuk komunikasi nonverbal yang kuat dan menyentuh.

Reza banyak menggunakan medium dan close-up shoot, menuntut pemain menampilkan karakter lewat ekspresi tubuh, tatapan mata, dan gestur halus. Hal ini didukung oleh latar set dan tata rias yang realistis dan tanpa cela. Ini sebabnya Reza bisa membawa pesan begitu banyak dengan dialog yang sangat sedikit tapi efektif dan berbobot.

Ramuan drama yang kuat, humor ringan yang cerdas, dan twist yang mengejutkan membuat Pangku bisa menjadi film dengan berbagai rasa: dokumenter sosial yang jujur, drama keluarga yang menyentuh, bahkan sedikit nuansa telenovela yang memikat. Percakapan minimalis ini memang menjadi tantangan tersendiri. Ada beberapa bagian yang mengecoh, meski kemudian terjawab dengan sendirinya. Bagi penonton dengan sumbu sabar yang pendek, ini mungkin membuat geregetan. Namun, semuanya terbayar apik pada akhirnya.

Reza berhasil mengucurkan kantung air mata penonton dengan penutup yang memuaskan secara emosional, lengkap dengan pilihan musik pengiring yang mendalam dari Iwan Fals. Tak perlu dipertanyakan bagaimana penampilan para pemain. Mereka berhasil memangku karakter mereka dengan sempurna, mulai dari Christine Hakim yang legendaris, Fedi Nuril yang transformatif, Claresta Taufan yang rapuh namun kuat, si kecil Shakeel Fauzi yang polos, dan bahkan Reza Chandika yang muncul sebagai cameo.

Standar tinggi itu juga terlihat dari sinematografi (Gay Hian Teoh) dan music scoring (Ricky Lionardi) yang memukau. Komposisi gambarnya tidak berlebihan tetapi apik dan artistik. Tidak banyak filter gegayaan tetapi tetap estetik dan relevan.

Dari Pantura Menggema ke Busan: Universalitas Kisah

Tawaran berbeda ini membuat Pangku mendapat apresiasi internasional yang luar biasa. Film ini memenangkan empat penghargaan pasca-penayangan world premiere di Busan International Film Festival (BIFF) ke-30 pada 20 September 2025. Pasalnya, meski mengangkat fenomena lokal yang sangat spesifik, esensinya begitu universal sehingga dapat dipahami dan dirasakan oleh penonton dari berbagai belahan dunia.

“Dari yang kami ambil pelajarannya di Busan ternyata cerita lokal ini juga universal. Apalagi ketika bicara peran dan sosok ibu. Easy resonate, bisa nyambung dan (audiens mancanegara) bisa ikut berempati,” ungkap produser Gita Fara.

Hal serupa diungkapkan Reza. Terlebih di Korea Selatan ada tradisi kisaeng, perempuan dari kelas rendahan yang dilatih untuk jadi penghibur sejak era Goryeo. “Jadi ada tradisi berbeda tapi mereka punya (profesi perempuan) dengan service yang mirip di Korea. Mungkin itu yang buat mereka mudah untuk relate. Mereka juga merasa enggak tahu budaya kopi pangku tapi mereka juga bisa melihat perspektif lain yang menurut mereka itu adalah pengalaman sinema yang terlewatkan tentang film Indonesia,” sambung Reza.

Jejak Sejarah ‘Kopi Pangku’: Akar Fenomena Sosial

Pangku juga berhasil karena menjejak pada fenomena sosial yang nyata dan telah lama eksis di masyarakat Indonesia. Fenomena ini sudah lama eksis. Aktivis cum penyair Wiji Thukul memvisualisasikannya dalam puisi Malam di Kota Khatulistiwa (28 Desember 1996), menggambarkan kehidupan malam di sekitaran Sungai Kapuas yang bercampur prostitusi terselubung.

Di lain daerah ada yang menyebut kopi senang, dakocan (dagang kopi cantik), atau kopi pangkon, menunjukkan variasi nama untuk fenomena serupa. Eko Setiawan dalam artikelnya di Jurnal Habitus (2022) mengungkap kopi pangku mulanya muncul di Gresik, Jawa Timur, kota penghasil legen (air nira) yang difermentasi menjadi tuak. Minuman ini lazim dijual di warung kopi dengan pelayan cantik sebagai daya tarik tambahan.

Booming dangdut koplo pada 1980-an dan 1990-an turut mempopulerkan warung kopi pangku di Pantura, di mana pelanggan menikmati kopi sambil memangku pelayan wanita diiringi irama dangdut yang menghentak. Ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ekosistem sosial-ekonomi yang kompleks.

Realisme Kelam yang Menetapkan Standar Baru

Pangku, bagi saya, sukses menyajikan realisme kelam yang menampar penonton dengan kejujuran yang brutal. Film yang terasa nyata, dekat, dan layak dianggap sebagai representasi otentik. Jika Cinderella menjadi fantasi murni tentang penyelamatan pasif, dan Anora adalah dekonstruksi sinis tentang perjuangan aktif pasca-penyelamatan, maka Pangku adalah antitesis total.

Ini adalah film tentang dunia di mana Cinderella Complex adalah sebuah kemewahan tak terjangkau, sebuah impian yang justru bertransformasi menjadi imaji usang dan tak relevan. Di dunia “Pangku”, tak ada ksatria berkuda putih, tak ada pangeran penolong, dan tak ada sepatu kaca yang membawa keajaiban. Yang ada hanyalah jalur Pantura yang berdebu, dan nasib seorang ibu yang gontai, berkali-kali disakiti semesta, namun harus terus melangkah maju demi anak-anaknya.

Reza Rahadian sudah menetapkan standar yang cukup tinggi untuk film Indonesia modern. Kita hanya bisa berharap, jangan sampai Indonesia harus menghabiskan berdekade lagi hanya untuk menunggu Pangku berikutnya hadir. Mungkinkah?

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita rakyatindependen.id

# # # #