PSM Makassar kembali menjadi sorotan karena harus berurusan dengan Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Klub berjuluk Juku Eja ini seolah menjadi "langganan" menerima sanksi berupa denda akibat berbagai pelanggaran yang terjadi baik di dalam maupun di luar lapangan. Terbaru, PSM Makassar dijatuhi denda sebesar Rp50 juta akibat akumulasi lima kartu kuning yang diterima pemainnya dalam satu pertandingan. Keputusan ini diambil dalam sidang Komdis PSSI pada 11 November 2025, terkait pertandingan melawan Dewa United pada 9 November 2025.
"Tim PSM Makassar. Jenis Pelanggaran: dalam pertandingan tersebut ada 5 orang pemain yang mendapatkan kartu kuning. Keputusan: denda Rp50.000.000," demikian bunyi sanksi yang tertulis dalam rilis resmi Komdis PSSI.
Denda terbaru ini semakin menambah panjang daftar sanksi yang harus ditanggung oleh PSM Makassar sepanjang musim ini. Jika ditotal, klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini telah mengantongi denda sebesar Rp370 juta. Jumlah yang fantastis ini tentu menjadi perhatian serius bagi manajemen klub dan menjadi indikasi adanya permasalahan disiplin yang perlu segera diatasi.
Lantas, apa saja yang menjadi penyebab PSM Makassar kerap kali mendapatkan sanksi dari Komdis PSSI? Mari kita telaah lebih dalam mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap permasalahan ini.
- Patrick Kluivert Ungkap Alasan di Balik Pemanggilan Kejutan Adrian Wibowo ke Timnas Indonesia
- Kabar Terkini Daisuke Sakai: Cedera Menghantui, Kapan Kembali Merumput Bersama PSM Makassar?
- Liga Super Indonesia: ‘Pulang Kampung’ Pemain Diaspora, Strategi Timnas atau Pengakuan Kompetisi Eropa Lebih Kejam?
1. Disiplin Pemain yang Kurang Terjaga
Salah satu faktor utama yang menyebabkan PSM Makassar sering terkena denda adalah kurangnya disiplin pemain di lapangan. Akumulasi kartu kuning menjadi salah satu indikatornya. Kartu kuning dapat diberikan kepada pemain karena berbagai alasan, seperti melakukan pelanggaran keras, melakukan tindakan tidak sportif, atau melakukan protes berlebihan terhadap wasit. Jika dalam satu pertandingan, lima pemain PSM Makassar mendapatkan kartu kuning, maka hal ini menunjukkan bahwa tim kurang mampu mengendalikan emosi dan bermain dengan kepala dingin.
Selain akumulasi kartu kuning, tindakan indisipliner lain seperti perkelahian antar pemain atau dengan pemain lawan, serta tindakan provokatif terhadap suporter juga dapat berujung pada sanksi dari Komdis PSSI. Oleh karena itu, pelatih dan jajaran manajemen PSM Makassar perlu memberikan perhatian khusus terhadap pembinaan mental dan disiplin pemain.
2. Kurangnya Pengawasan Terhadap Suporter

Selain masalah disiplin pemain, perilaku suporter juga menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap sanksi yang diterima oleh PSM Makassar. Dalam beberapa pertandingan, suporter PSM Makassar terbukti melakukan pelanggaran seperti menyalakan flare di dalam stadion, melempar benda-benda ke lapangan, atau bahkan masuk ke area lapangan tanpa izin. Tindakan-tindakan ini tidak hanya membahayakan keselamatan pemain dan penonton lain, tetapi juga melanggar regulasi yang telah ditetapkan oleh PSSI.
Manajemen PSM Makassar perlu bekerja sama dengan pihak keamanan dan organisasi suporter untuk meningkatkan pengawasan dan edukasi terhadap suporter. Suporter perlu memahami bahwa tindakan-tindakan yang merugikan klub tidak hanya berdampak pada finansial, tetapi juga dapat merusak citra klub di mata publik.
3. Lemahnya Koordinasi Antara Manajemen, Pelatih, dan Pemain
Kurangnya koordinasi antara manajemen, pelatih, dan pemain juga dapat menjadi faktor penyebab PSM Makassar sering terkena sanksi. Manajemen klub memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa seluruh pemain dan staf memahami dan mematuhi regulasi yang telah ditetapkan oleh PSSI. Pelatih memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan pemain agar bermain dengan disiplin dan sportif. Sementara itu, pemain memiliki tanggung jawab untuk menjaga perilaku dan tindakan mereka baik di dalam maupun di luar lapangan.
Jika koordinasi antara ketiga elemen ini tidak berjalan dengan baik, maka potensi terjadinya pelanggaran akan semakin besar. Oleh karena itu, perlu adanya komunikasi yang terbuka dan efektif antara manajemen, pelatih, dan pemain untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan sanksi dari Komdis PSSI.
4. Faktor Psikologis dan Tekanan Pertandingan
Dalam beberapa kasus, pelanggaran yang dilakukan oleh pemain PSM Makassar dapat disebabkan oleh faktor psikologis dan tekanan pertandingan. Pertandingan sepak bola seringkali berlangsung dengan tensi tinggi dan penuh tekanan. Pemain yang kurang mampu mengelola emosi dan tekanan dapat melakukan tindakan-tindakan yang tidak sportif atau melanggar aturan.
Selain itu, faktor psikologis seperti frustrasi akibat hasil pertandingan yang tidak memuaskan atau provokasi dari pemain lawan juga dapat memicu tindakan indisipliner. Oleh karena itu, PSM Makassar perlu memiliki tim psikolog yang dapat membantu pemain dalam mengelola emosi dan tekanan pertandingan.
5. Penegakan Hukum yang Kurang Tegas
Meskipun regulasi mengenai sanksi dan denda telah ditetapkan oleh PSSI, namun penegakan hukum yang kurang tegas juga dapat menjadi faktor penyebab klub-klub, termasuk PSM Makassar, sering melakukan pelanggaran. Jika sanksi yang diberikan tidak memberikan efek jera, maka klub dan pemain akan cenderung mengulangi pelanggaran yang sama di kemudian hari.
Oleh karena itu, PSSI perlu meningkatkan ketegasan dalam menegakkan hukum dan memberikan sanksi yang lebih berat kepada klub dan pemain yang terbukti melakukan pelanggaran. Hal ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan mencegah terjadinya pelanggaran di masa depan.
Dampak Negatif Denda Bagi PSM Makassar
Denda sebesar Rp370 juta yang telah dikantongi oleh PSM Makassar musim ini tentu memiliki dampak negatif yang signifikan bagi klub. Dana yang seharusnya dapat digunakan untuk pengembangan tim, seperti membeli pemain baru atau meningkatkan fasilitas latihan, harus dialokasikan untuk membayar denda. Hal ini tentu dapat menghambat perkembangan dan prestasi klub di masa depan.
Selain dampak finansial, denda juga dapat merusak citra klub di mata publik dan sponsor. Sponsor tentu akan berpikir dua kali untuk memberikan dukungan kepada klub yang sering terlibat dalam masalah disiplin. Hal ini dapat berdampak pada stabilitas finansial klub dan kemampuan untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
Solusi untuk Mengatasi Masalah Disiplin di PSM Makassar
Untuk mengatasi masalah disiplin yang kerap menghantui PSM Makassar, diperlukan langkah-langkah komprehensif yang melibatkan seluruh elemen klub. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan:
- Peningkatan Pembinaan Mental dan Disiplin Pemain: Pelatih dan tim pelatih harus memberikan perhatian khusus terhadap pembinaan mental dan disiplin pemain. Hal ini dapat dilakukan melalui program-program pelatihan yang berfokus pada pengendalian emosi, sportivitas, dan kepatuhan terhadap aturan.
- Edukasi dan Sosialisasi Regulasi PSSI: Manajemen klub perlu secara rutin melakukan edukasi dan sosialisasi mengenai regulasi PSSI kepada seluruh pemain dan staf. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak memahami dan mematuhi aturan yang berlaku.
- Penguatan Koordinasi Antara Manajemen, Pelatih, dan Pemain: Perlu adanya komunikasi yang terbuka dan efektif antara manajemen, pelatih, dan pemain. Manajemen klub harus memberikan dukungan penuh kepada pelatih dalam menegakkan disiplin dan memberikan sanksi yang tegas kepada pemain yang melanggar aturan.
- Peningkatan Pengawasan Terhadap Suporter: Manajemen PSM Makassar perlu bekerja sama dengan pihak keamanan dan organisasi suporter untuk meningkatkan pengawasan dan edukasi terhadap suporter. Suporter perlu memahami bahwa tindakan-tindakan yang merugikan klub tidak hanya berdampak pada finansial, tetapi juga dapat merusak citra klub di mata publik.
- Penerapan Sanksi Internal yang Tegas: PSM Makassar perlu memiliki aturan internal yang jelas mengenai sanksi bagi pemain dan staf yang melakukan pelanggaran. Sanksi yang diberikan harus tegas dan memberikan efek jera agar tidak ada lagi yang berani melanggar aturan.
- Pemanfaatan Teknologi dalam Pengawasan: PSM Makassar dapat memanfaatkan teknologi seperti CCTV dan sistem pelaporan online untuk meningkatkan pengawasan terhadap perilaku pemain dan suporter. Hal ini dapat membantu dalam mengidentifikasi dan menindak pelaku pelanggaran dengan lebih cepat dan efektif.
- Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan: Manajemen klub perlu secara rutin melakukan evaluasi terhadap efektivitas program-program pembinaan disiplin dan mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa program-program tersebut selalu relevan dan efektif dalam mengatasi masalah disiplin di PSM Makassar.
Dengan menerapkan solusi-solusi tersebut secara konsisten dan berkelanjutan, diharapkan PSM Makassar dapat mengatasi masalah disiplin yang selama ini menghantui klub dan meraih prestasi yang lebih baik di masa depan. Selain itu, citra klub di mata publik dan sponsor juga akan semakin meningkat, sehingga dapat menarik lebih banyak dukungan dan investasi.
PSM Makassar memiliki potensi besar untuk menjadi klub sepak bola yang sukses dan disegani di Indonesia. Namun, potensi ini tidak akan dapat diwujudkan jika masalah disiplin tidak segera diatasi. Oleh karena itu, seluruh elemen klub harus bekerja sama dan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan disiplin dan sportivitas. Dengan demikian, PSM Makassar dapat meraih prestasi yang membanggakan dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

