Surabaya – Sebuah gelombang optimisme menyapu Kecamatan Benowo, Surabaya, ketika ratusan ibu-ibu, yang akrab disapa “emak-emak”, berbondong-bondong memadati Pasar Murah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Inisiatif strategis Gubernur Khofifah Indar Parawansa ini terbukti menjadi oase di tengah tantangan ekonomi, memberikan akses sembako dengan harga terjangkau dan memicu senyum lega di wajah warga. Acara ini bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan sebuah manifestasi nyata komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan meringankan beban hidup masyarakat, khususnya di wilayah padat penduduk seperti Surabaya.
Sejak pukul 10.00 WIB, suasana di Halaman Gedung Pandan Sari, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, sudah mulai ramai dengan kedatangan para ibu. Antrean panjang yang tertib, namun sesekali diwarnai obrolan hangat dan tawa, menjadi pemandangan yang dominan. Para “emak-emak” ini, sebagian besar telah mempersiapkan diri dengan membawa kupon khusus yang akan ditukar dengan beras medium dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Antusiasme mereka tak terbendung, mencerminkan harapan besar akan harga yang lebih bersahabat di tengah fluktuasi pasar yang seringkali tidak menentu. Hingga pukul 11.30 WIB, kerumunan belum juga surut, menunjukkan tingginya animo dan kebutuhan mendesak masyarakat akan program semacam ini.
Pasar murah ini bukan hanya sekadar menyediakan barang, melainkan juga menyuguhkan harapan akan keringanan finansial. Salah satu warga Kelurahan Kandangan, Novi, mengungkapkan rasa puasnya setelah berhasil membeli dua kilogram telur dengan selisih harga mencapai Rp 4.000 hingga Rp 5.000 dibandingkan harga di pasar tradisional. Angka ini, meski tampak kecil bagi sebagian orang, sangat berarti bagi rumah tangga yang harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Murah harganya selisih Rp 4-5 Ribu, saya beli telor bedanya (harga) segitu. Saya kira harus lebih rutin lagi digelar karena membantu masyarakat,” ujar Novi dengan ekspresi wajah yang cerah, menyiratkan bahwa penghematan sekecil apapun adalah anugerah. Ia bahkan berharap agar pasar murah semacam ini dapat digelar secara reguler, setidaknya dua bulan sekali, untuk terus memberikan bantuan berkelanjutan bagi masyarakat.
Senada dengan Novi, Fajarini, warga Kelurahan Sememi, juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gubernur Khofifah atas inisiatif ini. Baginya, pasar murah ini adalah bentuk perhatian nyata dari pemerintah terhadap kondisi masyarakat kecil. Namun, Fajarini memiliki harapan besar agar kuota barang yang disediakan dapat diperbanyak di kemudian hari. “Terima kasih Bu Khofifah mau menggelar pasar murah di Benowo. Menurut saya pasar murah ini bagus, cuma saya berharap kuotanya bisa ditambah agar semakin banyak yang bisa membeli. Karena jujur saja harganya murah banget, kita masyarakat kecil ingin terus digelar (pasar murah),” beber Fajarini, suaranya dipenuhi optimisme namun juga terselip keinginan untuk pemerataan akses yang lebih luas. Harapan ini mencerminkan bahwa meskipun program telah berjalan baik, potensi untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat masih sangat terbuka lebar.
Ayuk, seorang ibu rumah tangga lainnya, turut menambahkan suaranya dalam paduan pujian terhadap program ini. “Alhamdulillah di sini harga murah-murah, sangat membantu emak-emak. Semoga kuotanya lebih banyak kalau digelar lagi,” katanya, menyiratkan bahwa pasar murah ini bukan sekadar penawaran harga rendah, tetapi juga sebuah bentuk dukungan moral dan praktis yang sangat berarti bagi para ibu dalam mengelola anggaran rumah tangga mereka. Kehadiran pasar murah ini menjadi semacam “penyelamat” di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok yang seringkali membebani, memberikan ruang bagi para ibu untuk bernafas lega dan mengalokasikan sisa dana untuk kebutuhan lain.
![]()
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sendiri menegaskan kembali komitmen kuat Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus menggelar pasar murah. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk memastikan sembako murah dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah perbatasan atau daerah yang sulit dijangkau. Khofifah memahami betul bahwa stabilitas harga adalah kunci untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan laju inflasi. “Penjangkauan sembako murah penting, kita berusaha agar stabilisasi harga bisa dilakukan. Kita ingin inflasi bisa dikendalikan, maka provinsi melakukan intervensi pasar murah ke kabupaten/kota,” jelasnya, merinci strategi pemerintah dalam menghadapi gejolak ekonomi.
Lebih lanjut, Khofifah menekankan pentingnya intervensi di kota-kota besar dan padat penduduk seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, yang memiliki tingkat konsumsi tinggi dan rentan terhadap kenaikan harga. “Apalagi Surabaya, Gresik, Sidoarjo ini wilayah besar, dan padat penduduk,” tambahnya, menggarisbawahi urgensi penyebaran pasar murah di area-area tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pada hari yang sama, pasar murah juga dilaksanakan di Krian, menunjukkan upaya penyebaran yang merata di berbagai titik strategis. “Hari ini di Benowo dan Krian. Kita berusaha menjangkau agar sembako murah bisa dijangkau dan dekat dari masyarakat,” tandasnya, memastikan bahwa lokasi pasar murah dipilih secara cermat untuk memaksimalkan aksesibilitas bagi warga.
Khofifah juga menjelaskan filosofi di balik penyelenggaraan pasar murah ini, menegaskan bahwa program ini bukanlah untuk menjadi kompetitor bagi pasar tradisional yang sudah ada. Sebaliknya, pasar murah dirancang sebagai pelengkap dan solusi bagi warga yang kesulitan menjangkau pasar tradisional atau yang berada di daerah dengan keterbatasan akses. “Pasar murah ini bukan kompetitor pasar tradisional dan pasar murah ini harus jauh dari pasar tradisional,” tegasnya, menjelaskan strategi penempatan yang bertujuan untuk menghindari persaingan tidak sehat dan justru memperkuat ekosistem ekonomi lokal secara keseluruhan. Ini menunjukkan pendekatan yang bijaksana, di mana pemerintah berupaya membantu masyarakat tanpa mengganggu roda perekonomian pedagang kecil di pasar konvensional.
Dalam setiap gelaran pasar murah, Pemprov Jatim telah menyiapkan kuota yang terukur untuk berbagai komoditas. Rata-rata, sekitar 500 hingga 600 pembeli dapat dilayani untuk komoditas seperti telur, gula, dan minyak goreng. Angka ini dihitung berdasarkan ketersediaan pasokan dan upaya untuk menjangkau sebanyak mungkin warga. Untuk beras, komoditas paling fundamental, Pemprov Jatim menyiapkan pasokan hingga 10 ton. Setiap pembeli diberikan kesempatan untuk membeli dua pack, yang setara dengan 10 kilogram beras, memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi dengan harga yang jauh lebih kompetitif. Mekanisme ini dirancang untuk menjamin pemerataan dan mencegah penimbunan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak keluarga.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pasar murah yang digagas oleh Gubernur Khofifah ini. Ia menyoroti tidak hanya manfaat langsung bagi konsumen, tetapi juga dampak positifnya terhadap sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang turut dilibatkan dalam acara tersebut. “Alhamdulillah Bu Khofifah mengadakan pasar murah di Benowo, tadi kita memberikan beras dan UMKM diborong Bu Khofifah. Ini menggerakkan perekonomian dan membantu warga Surabaya,” tandas Eri. Keterlibatan UMKM ini adalah strategi cerdas, di mana pasar murah tidak hanya meringankan beban pembeli tetapi juga memberikan pasar baru dan dorongan ekonomi bagi pelaku usaha kecil, menciptakan efek domino positif di seluruh rantai ekonomi.
Kehadiran pasar murah di Benowo ini lebih dari sekadar transaksi ekonomi; ia adalah simbol harapan dan gotong royong antara pemerintah dan masyarakat. Dalam setiap kilogram beras yang terjual, setiap butir telur yang dibeli, terdapat cerita tentang perjuangan, harapan, dan secercah kelegaan. Program ini menunjukkan bagaimana intervensi pemerintah yang terarah dan tepat sasaran dapat memberikan dampak signifikan dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput. Dengan komitmen yang berkelanjutan dan koordinasi yang kuat antara pemerintah provinsi dan kota, inisiatif semacam ini diharapkan akan terus menjadi jaring pengaman sosial yang efektif, memastikan bahwa setiap warga memiliki akses terhadap kebutuhan pokok yang layak, dan pada akhirnya, mendorong kesejahteraan yang lebih merata di seluruh Jawa Timur.
rakyatindependen.id

