Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, suasana sukacita di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, diselimuti kekhawatiran akibat lonjakan harga sejumlah komoditas pokok, terutama cabai dan bawang merah. Kenaikan yang terjadi secara signifikan ini menjadi sorotan utama, mengingat peran krusial kedua bumbu dapur tersebut dalam setiap hidangan masyarakat Indonesia. Lonjakan ini tidak hanya membebani rumah tangga, tetapi juga para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada pasokan stabil dan harga terjangkau untuk operasional mereka.
Berdasarkan pantauan langsung di sejumlah pasar tradisional di Lamongan, harga cabai rawit, yang menjadi primadona pedas, kini menembus angka fantastis Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Ini merupakan peningkatan yang mencolok dan membuat banyak konsumen terkejut. Padahal, baru sepekan lalu, harganya masih berkisar antara Rp 45 ribu hingga Rp 48 ribu per kilogram. Ini berarti terjadi kenaikan nyaris 70-80% dalam waktu singkat, sebuah lonjakan yang mengejutkan banyak pihak dan menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat serta pelaku usaha. Tak kalah pedas, cabai merah keriting juga ikut merangkak naik, kini dibanderol sekitar Rp 70 ribu per kilogram, menunjukkan tren kenaikan harga yang meluas di kategori cabai. Kenaikan drastis ini sontak memicu keluhan dari ibu rumah tangga dan pemilik warung makan yang harus memutar otak agar tetap bisa menyajikan menu favorit tanpa merugi terlalu banyak, atau terpaksa mengurangi porsi cabai dalam masakan mereka.
Warto, seorang pedagang sayur mayur di Pasar Rakyat Sidomulyo Lamongan, menjadi saksi langsung atas gejolak harga ini. Ia menuturkan bahwa kenaikan harga cabai sudah terjadi sekitar sepekan terakhir dan terus menunjukkan tren peningkatan. "Sebelumnya, satu kilo cabai rawit harganya 45 sampai 48 ribu. Sekarang, pembeli sering terkejut saat tahu harga terbarunya. Banyak yang akhirnya mengurangi porsi pembelian atau beralih ke cabai kering, meskipun rasanya tak senikmat cabai segar," kata Warto, Rabu (10/12/2025), mengungkapkan dilema yang dihadapi baik oleh pedagang maupun konsumen. Bagi Warto dan pedagang lainnya, kenaikan harga ini juga berarti modal yang lebih besar, risiko kerugian yang lebih tinggi jika barang tidak laku, serta tantangan dalam menjaga loyalitas pelanggan yang mungkin beralih mencari alternatif lebih murah.
Selain cabai, komoditas penting lainnya yang turut mengalami kenaikan harga signifikan adalah bawang merah. Saat ini, harga bawang merah di pasaran Lamongan telah mencapai Rp 55 ribu per kilogram, padahal seminggu sebelumnya masih di kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Kenaikan sebesar Rp 15 ribu ini, meskipun tidak setajam cabai, tetap terasa memberatkan bagi anggaran rumah tangga dan pelaku usaha kuliner. Bawang merah, sebagai bumbu dasar hampir semua masakan Indonesia, memiliki peran tak tergantikan. Kenaikannya berdampak luas, dari masakan rumahan hingga industri kuliner kecil seperti warung makan, restoran, dan usaha katering yang menggunakan bawang merah dalam jumlah besar setiap harinya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Anang Taufik, menjelaskan bahwa lonjakan harga beberapa komoditas ini, khususnya cabai, dipengaruhi oleh sejumlah faktor kompleks yang saling berkaitan, mulai dari kondisi alam hingga dinamika pasar. Faktor utama dan paling dominan adalah hasil panen cabai yang tidak maksimal. Anang menyoroti kondisi cuaca ekstrem, khususnya musim hujan yang berkepanjangan dan intensitas tinggi, yang secara signifikan memengaruhi produktivitas tanaman cabai. Hujan deras dan kelembaban tinggi menciptakan kondisi ideal bagi perkembangan penyakit tanaman, seperti antraknosa (patek) dan busuk akar, yang dapat merusak buah cabai sebelum matang atau bahkan mematikan tanaman secara keseluruhan. Akibatnya, kualitas dan kuantitas panen menurun drastis, menyebabkan pasokan di pasar menjadi terbatas.

Situasi ini sangat terasa di wilayah Lamongan utara seperti Laren dan Solokuro, yang merupakan sentra penghasil cabai utama bagi kabupaten ini. Ketika daerah sentra produksi mengalami gangguan panen, dampaknya langsung terasa pada ketersediaan dan harga di pasar-pasar lokal. Selain masalah di tingkat lokal, pasokan dari luar Lamongan juga menghadapi kendala. Anang menjelaskan, "Produktivitas cabai di daerah lain juga terpengaruh oleh kondisi cuaca yang tidak menentu." Ia menambahkan bahwa daerah-daerah penghasil cabai besar seperti Malang Raya, juga masih merasakan dampak meletusnya Gunung Semeru beberapa waktu lalu. Abu vulkanik yang menyelimuti lahan pertanian, perubahan kesuburan tanah, serta gangguan logistik pasca-erupsi, secara langsung memengaruhi produksi dan distribusi cabai dari wilayah tersebut. Hal ini menciptakan efek domino yang mengurangi ketersediaan pasokan secara nasional, termasuk untuk Lamongan, sehingga harga menjadi ikut terdongkrak.
Tak hanya dari sisi pasokan, peningkatan permintaan menjelang libur Nataru juga turut memicu kenaikan harga. Tradisi perayaan yang melibatkan hidangan khusus dan pesta keluarga secara otomatis meningkatkan konsumsi bumbu dapur, termasuk cabai dan bawang merah, yang mendorong permintaan pasar jauh melampaui ketersediaan pasokan yang sudah menipis. Distribusi dari petani ke pasar juga seringkali menghadapi tantangan, mulai dari biaya transportasi yang meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar atau kondisi jalan yang buruk, hingga rantai pasok yang panjang dan rentan terhadap praktik spekulasi oleh oknum-oknum tertentu yang mengambil keuntungan dari situasi ini.
Meski dihadapkan pada tantangan besar, Anang memastikan bahwa ketersediaan cabai di pasar-pasar di Lamongan masih dalam kondisi aman, meskipun dengan harga yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa meskipun harga melambung, masyarakat tidak perlu khawatir akan kelangkaan barang. Anang juga memberikan kabar baik mengenai komoditas pokok lainnya yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Beras, minyak goreng, gula, hingga daging sapi, masih relatif stabil dan tersedia dengan harga yang terjaga, memberikan sedikit kelegaan bagi masyarakat di tengah gejolak harga bumbu dapur.
Lebih lanjut Anang menjelaskan, harga beras kualitas premium terpantau Rp 14.900 per kilogram, beras kualitas medium Rp 13.000, dan beras medium Bulog Rp 12.500. Angka-angka ini menunjukkan stabilitas yang penting mengingat beras adalah makanan pokok utama. Kemudian, gula pasir dalam negeri berada di kisaran Rp 17.000, sementara minyak goreng kemasan masih terpantau Rp 20.000 per liter. Untuk komoditas daging, daging sapi murni stabil di kisaran Rp 120.000 per kilogram, daging ayam broiler Rp 38.000, dan daging ayam kampung Rp 90.000 per kilogram. Hanya telur ayam ras yang mengalami sedikit kenaikan, dari sebelumnya Rp 29.000 per kilogram menjadi Rp 30.000 per kilogram, sebuah kenaikan yang relatif kecil dibandingkan lonjakan harga cabai, namun tetap perlu diperhatikan mengingat telur merupakan sumber protein murah yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Untuk menjaga stabilitas harga komoditas pokok dan meringankan beban masyarakat menjelang libur Nataru, Disperindag Lamongan aktif menggelar pasar murah di berbagai kecamatan. Inisiatif ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau, memotong rantai distribusi yang panjang, dan membantu masyarakat mendapatkan akses langsung ke barang dengan harga subsidi atau harga petani. "Hari ini kami menggelar pasar murah di Kecamatan Paciran," ucap Anang, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menanggapi dinamika harga di pasar dan berupaya memberikan solusi konkret bagi masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat sedikit meredakan tekanan inflasi dan memastikan masyarakat dapat merayakan Nataru tanpa terlalu terbebani oleh kenaikan harga bahan pokok. Disperindag juga terus memantau pergerakan harga secara berkala dan berkoordinasi dengan distributor serta petani untuk memastikan pasokan tetap lancar dan mencegah praktik penimbunan barang yang dapat memperkeruh situasi.
Lonjakan harga cabai dan bawang merah ini tidak hanya menjadi masalah dapur, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang lebih luas. Potensi inflasi yang meningkat akibat kenaikan harga pangan dapat memengaruhi daya beli masyarakat secara keseluruhan, mengurangi kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan lain. Para pengusaha kuliner kecil, seperti warung makan, penjual bakso, atau katering rumahan, adalah pihak yang paling merasakan dampaknya. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual produk mereka (yang berisiko kehilangan pelanggan) atau menanggung kerugian dengan mempertahankan harga lama. Bagi rumah tangga, ini berarti penyesuaian anggaran belanja atau mengurangi konsumsi komoditas tertentu, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kualitas gizi keluarga jika tidak diatasi dengan bijak.
Situasi harga komoditas pangan di Lamongan menjelang Nataru 2025 memang menunjukkan gambaran yang beragam. Di satu sisi, ada tantangan besar dari lonjakan harga cabai dan bawang merah yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem, bencana alam, dan peningkatan permintaan musiman. Namun, di sisi lain, pemerintah daerah melalui Disperindag terus berupaya menjaga ketersediaan dan stabilitas harga komoditas lain melalui berbagai program, seperti pasar murah, serta memastikan pasokan aman. Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja, mengelola anggaran rumah tangga dengan cermat, dan memanfaatkan program-program pemerintah yang tersedia untuk meringankan beban. Sementara itu, pihak berwenang diharapkan terus mencari solusi jangka panjang untuk ketahanan pangan di Lamongan, termasuk peningkatan infrastruktur pertanian, pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan cuaca, serta penguatan rantai pasok agar harga tidak terlalu bergejolak di masa mendatang.
(fak/ted)
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita rakyatindependen.id


