Kerusuhan mengerikan yang melanda Surabaya pada dini hari Minggu, 31 Agustus 2025, telah meninggalkan luka mendalam dan merenggut salah satu warisan berharga kota ini. Polsek Tegalsari, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Surabaya, kini hanya tinggal puing-puing setelah dilalap api yang berkobar akibat amuk massa yang tak terkendali.
Bangunan yang dulunya berdiri kokoh sebagai simbol keamanan dan bagian tak terpisahkan dari identitas kota, kini hanya menyisakan pemandangan yang memilukan. Atap yang pernah melindungi, penyangga kayu yang menopang struktur bangunan, semuanya telah menjadi arang dan debu. Dinding-dinding tua yang masih berdiri tegak, seolah menjadi saksi bisu bisu atas tragedi yang baru saja terjadi, menyimpan kenangan akan masa lalu yang kini telah hilang.
Pada pagi yang suram itu, sekitar pukul 07.00 WIB, tim pemadam kebakaran masih berjuang melawan sisa-sisa api yang enggan padam. Mereka juga berusaha membersihkan puing-puing yang berserakan di halaman Polsek Tegalsari, sebuah tugas berat yang mengingatkan akan kehancuran yang telah terjadi.
Kehilangan Polsek Tegalsari bukan hanya sekadar kehilangan sebuah bangunan. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya, menjadikannya bagian penting dari warisan sejarah dan budaya kota. Menurut catatan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar), bangunan ini dulunya berfungsi sebagai fasilitas pengamanan wilayah Tegalsari, menjadi tempat berlindung dan menjaga ketertiban masyarakat.
Meskipun detail arsitektur asli bangunan ini tidak terdokumentasi secara lengkap, sejarah mencatat bahwa pada masanya, bangunan ini dikenal sebagai milik negara dengan nama Burgerlike Openbare Werken. Nama ini mencerminkan peran penting bangunan ini dalam administrasi dan pelayanan publik di masa lalu. Kini, warisan bersejarah itu hanya tinggal kenangan, cerita yang akan diceritakan kepada generasi mendatang tentang betapa berharganya sebuah warisan budaya dan betapa mudahnya warisan itu hilang dalam sekejap mata.
Kerusakan Polsek Tegalsari menambah daftar panjang kerugian yang disebabkan oleh aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di Surabaya. Bagi warga kota, kehilangan ini bukan hanya tentang sebuah bangunan polisi yang terbakar, tetapi juga tentang hilangnya bagian dari sejarah dan identitas Surabaya. Bangunan ini adalah bagian dari narasi kolektif kota, sebuah pengingat akan masa lalu dan fondasi bagi masa depan.
Tragedi ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana kita menghargai dan melindungi warisan budaya kita. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali? Bagaimana kita dapat membangun masyarakat yang lebih toleran dan menghormati perbedaan pendapat, tanpa harus merusak atau menghancurkan apa yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya?
Kehancuran Polsek Tegalsari adalah panggilan untuk bertindak. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk merenungkan nilai-nilai yang kita junjung tinggi sebagai masyarakat, untuk memperkuat rasa hormat kita terhadap sejarah dan budaya, dan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Pemerintah Kota Surabaya telah menyatakan komitmennya untuk menyelidiki penyebab kerusuhan dan membawa para pelaku ke pengadilan. Mereka juga berjanji untuk melakukan segala yang mungkin untuk memulihkan warisan budaya yang telah hilang, termasuk mempertimbangkan kemungkinan rekonstruksi Polsek Tegalsari.
Namun, rekonstruksi fisik hanyalah sebagian dari solusi. Lebih penting lagi adalah membangun kembali kepercayaan dan persatuan di antara warga Surabaya. Ini membutuhkan dialog terbuka dan jujur, saling pengertian, dan komitmen untuk menyelesaikan perbedaan secara damai.
Tragedi Polsek Tegalsari adalah pengingat yang menyakitkan tentang betapa rapuhnya perdamaian dan betapa pentingnya menjaga warisan budaya kita. Mari kita belajar dari kejadian ini dan bekerja sama untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi Surabaya, sebuah kota yang menghargai sejarahnya, menghormati budayanya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan persatuan.
Selain itu, perlu adanya evaluasi mendalam terhadap sistem keamanan dan penegakan hukum di Surabaya. Kerusuhan yang terjadi menunjukkan adanya kelemahan dalam mengendalikan massa dan mencegah terjadinya kekerasan. Pihak berwenang perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam merespons situasi darurat dan memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang cukup untuk melindungi masyarakat dan properti.
Penting juga untuk mengatasi akar penyebab kerusuhan. Kemarahan dan frustrasi yang memicu aksi kekerasan seringkali berakar pada masalah sosial dan ekonomi yang lebih dalam. Pemerintah dan masyarakat sipil perlu bekerja sama untuk mengatasi ketidaksetaraan, meningkatkan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, dan menciptakan peluang yang lebih baik bagi semua warga Surabaya.
Media juga memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kerusuhan di masa depan. Media harus melaporkan peristiwa secara akurat dan bertanggung jawab, menghindari sensasionalisme dan provokasi yang dapat memicu kekerasan. Media juga harus memberikan platform bagi berbagai suara dan perspektif, mempromosikan dialog dan pemahaman yang lebih baik di antara kelompok-kelompok yang berbeda.
Tragedi Polsek Tegalsari adalah momen penting dalam sejarah Surabaya. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan membangun masa depan yang lebih baik. Mari kita bekerja sama untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, toleran, dan damai, di mana warisan budaya kita dihargai dan dilindungi.
Kehancuran Polsek Tegalsari juga menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dan budaya. Banyak orang mungkin tidak menyadari nilai penting bangunan bersejarah seperti Polsek Tegalsari. Pendidikan yang lebih baik tentang sejarah dan budaya lokal dapat membantu meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap warisan kita, mendorong orang untuk lebih peduli dan melindunginya.
Selain itu, perlu adanya upaya yang lebih besar untuk mendokumentasikan dan melestarikan warisan budaya kita. Banyak bangunan bersejarah dan situs budaya yang tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga rentan terhadap kerusakan atau penghancuran. Pemerintah dan organisasi masyarakat sipil perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan budaya kita untuk generasi mendatang.
Tragedi Polsek Tegalsari adalah pengingat yang menyakitkan tentang betapa berharganya warisan budaya kita dan betapa pentingnya kita melindunginya. Mari kita belajar dari kejadian ini dan bekerja sama untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi Surabaya, sebuah kota yang menghargai sejarahnya, menghormati budayanya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan persatuan.
Sebagai penutup, mari kita mengenang Polsek Tegalsari bukan hanya sebagai bangunan yang hilang, tetapi sebagai simbol dari semangat Surabaya yang kuat dan kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras dalam membangun masyarakat yang lebih baik, di mana warisan budaya kita dihargai dan dilindungi, dan di mana perdamaian dan persatuan adalah nilai-nilai yang kita junjung tinggi.
Semoga arwah para korban kerusuhan diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Mari kita berdoa agar Surabaya dapat segera pulih dari tragedi ini dan kembali menjadi kota yang aman, damai, dan sejahtera bagi semua warganya.