FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Musim kompetisi 2025/2026 tampaknya akan menjadi salah satu musim yang paling diingat oleh para pendukung Persebaya Surabaya, dan sayangnya, bukan karena kejayaan. Kekalahan telak dengan skor 1-5 melawan Borneo FC Samarinda dalam lanjutan BRI Liga 1 di Stadion Segiri, Samarinda, pada Sabtu malam (7 Maret 2026), telah memicu gelombang kekecewaan dan kembali membuka luka lama terkait inkonsistensi performa tim, terutama di lini serang. Hasil minor ini tidak hanya memperburuk posisi Persebaya dalam peta persaingan klasemen, tetapi juga memantik kembali diskusi panas di kalangan Bonek Mania mengenai urgensi perombakan skuad besar-besaran menjelang jendela transfer mendatang.
Kekalahan telak ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan sebuah refleksi mendalam dari berbagai persoalan yang selama ini membayangi performa skuad berjuluk "Green Force". Lini depan, yang seharusnya menjadi ujung tombak penentu kemenangan, justru terlihat tumpul dan kurang tajam. Sepanjang 90 menit pertandingan, Persebaya memang tidak bisa dikatakan tampil tanpa perlawanan. Beberapa peluang emas berhasil diciptakan, bahkan melalui skema serangan yang cukup terbuka dan menjanjikan. Namun, masalah klasik mengenai efektivitas penyelesaian akhir kembali menjadi momok yang menghantui. Dari sekian banyak kesempatan yang seharusnya bisa berbuah gol, hanya satu yang mampu dikonversi menjadi gol. Fenomena ini sangat kontras dengan performa Borneo FC yang tampil jauh lebih klinis. Setiap peluang berbahaya yang dibangun oleh tim tuan rumah, hampir semuanya mampu berujung menjadi gol. Perbedaan mencolok dalam tingkat efektivitas inilah yang pada akhirnya menjadi penentu utama dalam jalannya pertandingan, menciptakan jurang pemisah skor yang begitu lebar.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, yang dikenal sebagai sosok yang lugas dalam setiap evaluasi, tidak berusaha menutupi kenyataan pahit yang dialami timnya. Ia secara terbuka mengakui bahwa timnya harus segera melakukan introspeksi dan evaluasi mendalam setelah hasil yang sangat mengecewakan ini. "Kami juga memiliki beberapa peluang yang cukup baik, tetapi sayangnya, kami hanya mampu mencetak satu gol. Ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa kami abaikan. Sekarang, kami harus kembali melihat rekaman pertandingan ini secara menyeluruh dan menganalisis secara detail apa saja yang sebenarnya terjadi di lapangan, serta apa akar permasalahannya," ujar Tavares dengan nada prihatin. Pernyataan ini mengindikasikan adanya kesadaran dari tim pelatih mengenai krusialnya sektor penyerangan yang perlu segera dibenahi.
Menariknya, di tengah sorotan tajam terhadap lini depan Persebaya yang mandul, rumor mengenai potensi kembalinya Ramadhan Sananta ke klub kebanggaan Surabaya ini kembali menguat. Sananta, yang saat ini membela salah satu klub rival, memang memiliki rekam jejak yang cukup impresif di Persebaya sebelum memutuskan untuk mencari tantangan baru di tim lain. Kehadirannya di skuad Bajol Ijo pada musim sebelumnya sempat memberikan dimensi baru di lini serang, dengan kecepatan, ketahanan fisik, dan naluri gol yang cukup mumpuni. Beberapa sumber yang dekat dengan internal klub mengindikasikan bahwa manajemen Persebaya telah mulai menjajaki kemungkinan untuk memboyong kembali Sananta, terutama jika bursa transfer musim depan dibuka. Keinginan untuk memperkuat lini serang yang dinilai masih kurang greget menjadi salah satu alasan utama di balik manuver ini.
Perdebatan mengenai Ramadhan Sananta sendiri memang selalu menarik. Di satu sisi, kepulangannya dinilai akan menjadi solusi instan untuk masalah penyerangan yang sedang dihadapi Persebaya. Pengalamannya bermain di Liga 1, termasuk bersama Persebaya, membuatnya tidak memerlukan waktu adaptasi yang lama. Selain itu, ia juga memiliki koneksi yang baik dengan beberapa pemain yang masih bertahan di skuad Green Force. Namun, di sisi lain, ada pula yang mempertanyakan apakah mendatangkan kembali pemain lama adalah solusi jangka panjang yang tepat. Beberapa pendukung berpendapat bahwa Persebaya seharusnya fokus untuk mencari talenta-talenta baru yang lebih segar dan memiliki potensi untuk berkembang dalam jangka panjang, bukan hanya mengandalkan pemain yang sudah pernah membela tim.
Kekalahan dari Borneo FC ini memang menjadi pukulan telak yang harus dihadapi Persebaya. Tim berjuluk Pesut Etam ini tampil luar biasa di kandang sendiri, menunjukkan determinasi dan efektivitas yang patut diacungi jempol. Gol-gol Borneo FC dicetak oleh pemain-pemain yang tampil on fire, memanfaatkan setiap celah pertahanan Persebaya yang terkadang terlihat lengah. Para pemain Borneo FC terlihat sangat termotivasi untuk memberikan penampilan terbaik di hadapan publik mereka sendiri, dan hasilnya pun sangat memuaskan. Gol-gol kemenangan Borneo FC dicetak oleh beberapa nama yang memang sudah dikenal sebagai ancaman di liga, menunjukkan bahwa mereka memiliki kedalaman skuad yang mumpuni.
Dari sisi Persebaya, kegagalan menciptakan banyak gol bukan semata-mata karena kurangnya kesempatan, melainkan juga karena beberapa faktor lain yang perlu diurai. Kurangnya kreativitas di lini tengah untuk menciptakan umpan-umpan terobosan yang mematikan, minimnya pergerakan tanpa bola yang efektif dari para penyerang, serta pengambilan keputusan yang kurang tepat di depan gawang menjadi beberapa aspek yang terlihat jelas di lapangan. Kadang kala, para pemain Persebaya terlihat terburu-buru dalam mengambil keputusan, atau memilih opsi yang kurang optimal ketika berada dalam posisi mencetak gol.
Bernardo Tavares sendiri memiliki catatan yang cukup baik dalam membangun tim yang solid di lini pertahanan dan tengah. Namun, dalam beberapa musim terakhir, lini serang Persebaya memang kerap menjadi titik lemah yang paling sering dikritik. Meskipun mendatangkan beberapa pemain baru setiap musimnya, performa lini depan belum juga menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah masalahnya terletak pada kualitas pemain yang didatangkan, ataukah ada hal lain yang lebih mendasar yang perlu dibenahi, seperti taktik atau metode latihan yang berkaitan dengan penyelesaian akhir.

Menjelang jendela transfer yang akan dibuka dalam beberapa bulan ke depan, tekanan terhadap manajemen Persebaya untuk melakukan gebrakan semakin besar. Para pendukung menuntut adanya perombakan skuad yang lebih berani dan strategis. Jika rumor kepulangan Ramadhan Sananta terbukti benar, maka ini bisa menjadi salah satu langkah awal manajemen untuk menjawab tuntutan tersebut. Namun, keputusan akhir tentu akan berada di tangan pelatih dan jajaran direksi, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk visi jangka panjang klub dan ketersediaan dana.
Pertandingan melawan Borneo FC ini juga memberikan pelajaran berharga bagi Persebaya mengenai pentingnya setiap elemen dalam tim. Lini depan yang tajam, lini tengah yang kreatif, dan lini belakang yang kokoh adalah tiga pilar utama yang harus seimbang untuk meraih kesuksesan di kompetisi yang ketat seperti BRI Liga 1. Jika salah satu pilar tersebut lemah, maka seluruh bangunan tim akan rentan roboh.
Di sisi lain, kemenangan telak Borneo FC ini menegaskan bahwa mereka adalah salah satu tim yang patut diperhitungkan dalam perburuan gelar juara musim ini. Performa mereka yang konsisten, baik di kandang maupun tandang, menunjukkan bahwa mereka memiliki mental juara dan skuad yang mumpuni untuk bersaing di papan atas. Kemenangan ini tentu akan menjadi suntikan moral yang sangat besar bagi skuad asuhan pelatih Mario Gomez ini, dan akan semakin memotivasi mereka untuk terus meraih hasil positif di pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Bagi Persebaya, kekalahan ini harus dijadikan momentum untuk melakukan refleksi mendalam. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek tim, mulai dari pemain, pelatih, hingga jajaran manajemen, menjadi sebuah keharusan. Keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan, terutama terkait rekrutmen pemain baru dan penyesuaian strategi, akan sangat menentukan nasib Persebaya di sisa kompetisi dan musim-musim berikutnya. Apakah Persebaya akan bangkit dari keterpurukan ini dan kembali menunjukkan taringnya, ataukah akan terus terpuruk dalam inkonsistensi, waktu yang akan menjawabnya. Namun, satu hal yang pasti, para pendukung setia Persebaya menanti perubahan nyata dan performa yang lebih membanggakan.