Surabaya, 21 November 2025 – Dalam upaya merangkul potensi tak terbatas dari generasi Z dan milenial, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur bersama Tribun Jatim Network akan menggelar sebuah forum dialog publik revolusioner bertajuk "RedTalks: Suara Muda untuk Jatim Keren". Acara yang akan berlangsung pada Sabtu, 22 November 2025, di Dyandra Convention Center, Jalan Basuki Rahmad Surabaya, ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan sebuah platform partisipatif yang didesain untuk menjadi corong aspirasi, kritik konstruktif, dan solusi inovatif dari para pemuda-pemudi Jawa Timur. Inisiatif ini menandai komitmen serius untuk mengintegrasikan suara kaum muda dalam peta jalan pembangunan daerah, membentuk masa depan Jawa Timur yang lebih sejahtera, berdaya saing, dan berkarakter.
RedTalks hadir sebagai jawaban atas tantangan kontemporer dalam partisipasi politik dan pembangunan daerah. Didesain sebagai wadah terbuka, forum ini secara eksplisit mengundang generasi Z dan milenial untuk tidak hanya menyimak, tetapi secara aktif menyampaikan gagasan, melontarkan kritik pedas (bahkan "roasting") secara langsung kepada narasumber maupun penyelenggara. Konsep ini mencerminkan semangat keterbukaan dan transparansi yang diusung oleh penyelenggara, menepis sekat-sekat formalitas yang kerap menghambat dialog antara pemuda dan pemangku kepentingan. Pemimpin Redaksi Tribun Jatim Network, Tri Mulyono, menegaskan urgensi format dialog yang inovatif ini. "Dalam RedTalks ini, kalangan milenial dan Gen Z bisa menyampaikan gagasan, kritik, dan perspektif mengenai masa depan Jawa Timur," ujarnya pada Jumat, 21 November 2025, didampingi GM Business Tribun Jatim Network, Adi Widodo. Ia menambahkan bahwa model dialog ini merupakan langkah progresif untuk mendekatkan arena pengambilan kebijakan dengan realitas dan harapan generasi muda.
Tiga pilar strategis telah dipilih menjadi subtema utama dalam gelaran RedTalks tahun ini, mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi Jawa Timur di masa depan: Kemandirian Ekonomi, Kedaulatan Politik, dan Pendekatan Budaya untuk Pembangunan Daerah. Tri Mulyono menjelaskan, "Tiga hal tersebut kita nilai mewakili tantangan masa depan Jawa Timur ke depan." Setiap subtema dirancang untuk menggali ide-ide segar dan solusi aplikatif yang relevan dengan konteks lokal maupun global.
Di bawah payung Kemandirian Ekonomi, diskusi akan berpusat pada strategi peningkatan produktivitas, inovasi UMKM, pemanfaatan teknologi digital, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan bagi generasi muda. Ini mencakup bagaimana Jawa Timur dapat mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif, mendorong kewirausahaan, dan mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor tradisional. Kedaulatan Politik akan mengupas bagaimana partisipasi politik kaum muda dapat diperkuat, tidak hanya saat pemilu, tetapi juga dalam proses perumusan dan pengawasan kebijakan publik. Isu-isu seperti literasi politik, peran media sosial dalam demokrasi, dan mekanisme akuntabilitas pemerintah akan menjadi sorotan utama. Sementara itu, Pendekatan Budaya untuk Pembangunan Daerah akan mengeksplorasi bagaimana identitas dan kearifan lokal Jawa Timur dapat menjadi fondasi pembangunan yang berkelanjutan, sekaligus mendorong industri kreatif berbasis budaya dan melestarikan warisan leluhur di tengah arus modernisasi. Subtema ini akan membahas bagaimana seni, tradisi, dan nilai-nilai lokal dapat menjadi kekuatan pendorong ekonomi dan perekat sosial.
Forum yang dijadwalkan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 13.30 WIB ini akan menghadirkan sebelas narasumber pilihan yang mewakili berbagai latar belakang dan keahlian, menciptakan sebuah mosaik perspektif yang kaya. Dari akademisi hingga praktisi, budayawan hingga influencer, komika hingga pemimpin mahasiswa, setiap narasumber diharapkan dapat memantik diskusi yang mendalam dan multidimensional. Mereka adalah:

- Yohan Wahyu (Litbang Kompas): Akan membawa data dan analisis mendalam mengenai tren sosial-politik serta ekonomi di kalangan generasi muda, memberikan fondasi faktual bagi diskusi.
- Hendy Setiono (Presdir PT Baba Rafi Internasional): Sosok inspiratif dalam dunia wirausaha, akan berbagi pengalaman dan strategi membangun kemandirian ekonomi, serta peluang bisnis bagi kaum milenial.
- Prof. Ignatia Martha Hendrati (UPN Veteran Jatim): Sebagai akademisi, akan memberikan perspektif ilmiah dan kerangka konseptual terkait pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berbasis inovasi.
- Airlangga Pribadi Kusman (Universitas Airlangga): Akan menganalisis dinamika politik lokal dan nasional, serta bagaimana generasi muda dapat memainkan peran strategis dalam kedaulatan politik.
- Dr. Jokhanan Kristiyono (Stikosa-AWS): Akan membahas peran media dan komunikasi dalam membentuk opini publik, serta bagaimana generasi muda dapat menjadi agen perubahan melalui platform digital.
- Hadi Prasetyo (Mantan Birokrat Pemprov Jatim): Dengan pengalaman panjang di birokrasi, akan memberikan insight tentang mekanisme kebijakan publik dan tantangan implementasinya.
- Ahmad Lafillian Romadhi (Petani Milenial): Mewakili suara petani muda yang inovatif, akan berbagi praktik terbaik dalam kemandirian pangan dan pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi.
- Sujiwo Tejo (Budayawan): Akan menyajikan pandangan filosofis dan kritis mengenai pentingnya identitas budaya dalam pembangunan, serta bagaimana seni dapat menjadi medium ekspresi dan advokasi.
- Irfan Ahmad Yasin (Presiden BEM FISIP Unair): Sebagai representasi langsung suara mahasiswa, akan menyampaikan aspirasi dan tantangan yang dihadapi generasi muda dalam kancah politik kampus dan masyarakat.
- Natasha Keniraras/Natkeni (Influencer): Akan membahas peran media sosial dan influence marketing dalam membentuk opini dan menggerakkan komunitas, serta bagaimana isu-isu penting dapat dikemas agar relevan dengan audiens muda.
- Yudhit Ciphardian (Komika): Akan menggunakan humor sebagai alat kritik sosial dan politik yang cerdas, menunjukkan bahwa aspirasi bisa disampaikan dengan cara yang menghibur namun tetap substansial.

Sesi talkshow akan dipandu oleh dua moderator berpengalaman, Febby Mahendra Putra, Direktur Pemberitaan Tribun Network, dan Dr. Suko Widodo, pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga. Keduanya diharapkan mampu menciptakan atmosfer diskusi yang dinamis, mendalam, namun tetap ringan dan mudah dicerna oleh audiens muda.
DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, sebagai salah satu penyelenggara, secara tegas menyatakan kesiapannya untuk menerima segala bentuk kritik yang muncul dari forum ini. Tri Mulyono menegaskan, "PDI Perjuangan Jawa Timur siap menerima kritik selama disampaikan secara membangun serta tidak mengandung hoaks maupun fitnah." Lebih dari sekadar menerima, ia menambahkan bahwa rekomendasi konkret yang dihasilkan dari RedTalks akan ditindaklanjuti secara serius oleh kader-kader PDIP yang kini mengemban amanah di kursi eksekutif maupun legislatif. "PDI Perjuangan menyatakan berkomitmen memperjuangkannya hingga menjadi kebijakan yang bermanfaat untuk masyarakat Jawa Timur," janjinya. Komitmen ini krusial untuk membangun kepercayaan publik, terutama di kalangan generasi muda yang seringkali merasa skeptis terhadap janji-janji politik.
Keterlibatan anak muda menjadi fokus utama penyelenggaraan RedTalks, mengingat tingkat apatisme politik generasi muda yang masih cukup tinggi. Banyak studi menunjukkan bahwa kaum muda cenderung kurang tertarik pada politik tradisional, melihatnya sebagai arena yang kaku dan tidak relevan. "Kami ingin partisipasi politik anak muda meningkat. Banyak dari mereka masih apatis, dan ini harus diubah," kata Tri Mulyono. RedTalks diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi kaum muda dengan mekanisme politik formal, mengubah apatisme menjadi partisipasi aktif dan konstruktif.
GM Business Tribun Jatim Network, Adi Widodo, menilai pentingnya format dialog publik seperti RedTalks untuk memahami cara komunikasi yang sesuai karakter Gen Z dan milenial. "Kami sengaja mengundang teman-teman muda di acara ini untuk mendapat masukan dan insight tentang bagaimana berkomunikasi dengan anak muda di era sekarang," jelasnya. Ia menekankan bahwa memahami pola pikir, preferensi, dan bahasa komunikasi generasi muda adalah kunci dalam menyampaikan pesan politik yang efektif dan menerjemahkan aspirasi mereka ke dalam kebijakan yang nyata. "Ini penting agar pesan dan aspirasi kaum muda dapat diwujudkan dalam program nyata oleh mereka yang mendapat mandat dari rakyat," tegasnya, menyoroti peran strategis media dalam memfasilitasi dialog ini.
Inisiatif ini juga mendapat apresiasi luas dari para pakar. Peneliti Litbang Kompas, Yohan Wahyu, menyambut baik penyelenggaraan forum ini. "Ini inovasi menarik, karena mempertemukan audiens, terutama anak-anak muda, dengan institusi partai politik. Semakin banyak ruang yang mendekatkan publik dengan partai, itu semakin baik," ujarnya. Yohan menekankan bahwa partai politik idealnya bekerja sepanjang tahun, tidak hanya menjelang pemilu, dan RedTalks adalah contoh nyata dari kerja berkelanjutan tersebut. "RedTalks ini bisa menjadi panggung bagi anak muda untuk mengekspresikan aspirasi dan harapannya," imbuhnya, melihatnya sebagai langkah maju dalam demokratisasi partisipasi.
Senada dengan Yohan, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga, Dr. Suko Widodo, juga menilai RedTalks sebagai forum yang sangat relevan untuk menjaring aspirasi publik. "Partai politik harus dapat menampung aspirasi publik dengan baik sekalipun berisi kritikan," ujarnya. Menurutnya, masyarakat kini semakin kritis terhadap berbagai isu, terutama yang viral di media sosial, sehingga forum dialogis semacam ini sangat diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang otentik. "Forum seperti ini bisa menjadi wahana untuk mendapatkan data yang faktual dan otentik. Dan data inilah yang sangat penting bagi parpol," tambahnya, menekankan bahwa data aspirasi dari kaum muda adalah komoditas berharga untuk perumusan kebijakan yang tepat sasaran.
RedTalks: Suara Muda untuk Jatim Keren bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah manifestasi dari keinginan kuat untuk membangun masa depan Jawa Timur yang lebih inklusif, dinamis, dan responsif terhadap kebutuhan generasinya. Dengan memfasilitasi dialog langsung antara pemangku kepentingan dan generasi muda, diharapkan akan lahir ide-ide brilian, kritik yang membangun, dan komitmen bersama untuk mewujudkan Jawa Timur yang benar-benar "Keren" di berbagai sektor, dari ekonomi, politik, hingga budaya. Inisiatif ini menjadi tolok ukur penting bagaimana partai politik dan media massa dapat berkolaborasi menciptakan ruang partisipasi yang bermakna, menjembatani kesenjangan antargenerasi, dan memastikan bahwa suara muda didengar, dihargai, dan diwujudkan dalam aksi nyata. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan demokrasi dan pembangunan Jawa Timur yang berkelanjutan.
(rakyatindependen.id)